JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pembuatan Rorak Di Antara Pertanaman Kakao

Oleh:

MADE RATNADA, MP

PENYULUH PADA BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN NTT

 

 

PENDAHULUAN

Sebagian besar tanaman kakao di Nusa Tenggara Timur ditanam di lahan bergelombang sampai berbukit atau lahan berlereng. Kondisi seperti ini sering menyebabkan erosi, tergerusnya solum tanah, aliran permukaan yang cepat, kurangnya resapan air ke dalam tanah yang akhirnya menyebabkan tanaman kurang subur, produktivitas rendah.

Usahatani tanaman kakao pada lahan seperti tersebut di atas memerlukan adanya upaya pembuatan rorak untuk menanggulangi bahaya erosi dan memanfaatkan rorak sebagai media penampungan bahan organic seperti seresah, kulit buah kakao dan yang lain yang diharapkan menjadi sumber pupuk organik yang murah dalam menghadapi mahalnya pupuk konvensional, baik pupuk organic maupun anorganik buatan pabrik. Rorak dianjurkan dibuat pada lahan berkemiringan antara 3 % sampai dengan 30 %.

 

MENGENAL RORAK    

Rorak merupakan saluran buntu atau bangunan berupa got dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi untuk menjebak/menangkap aliran permukaan dan tanah yang tererosi serta dapat bermanfaat sebagai media penampungan bahan organik, sebagai sumber hara bagi tanaman di sekitarnya.

Pada tanaman kakao, rorak adalah galian yang dibuat di sebelah pokok tanaman untuk menempatkan pupuk organik dan dapat berfungsi sebagai lubang drainase. Rorak merupakan salah satu praktek baku kebun yang bertujuan untuk mengelola lahan, bahan organik dan tindakan konservasi tanah dan air di perkebunan kakao. Rorak dapat diisi seresah atau sisa hasil pangkasan tanaman kakao dan gulma hingga penuh dan selanjutnya ditutupi dengan tanah.

Ketika hujan deras, rorak dapat berfungsi sebagai lubang drainase untuk mempercepat penyusutan air hujan yang menggenang di atas permukaan tanah. Air yang menggenang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Stagnasi air dapat berakibat fatal pada pertanaman kakao. Biasanya saluran drainase dibuat di pinggir blok kebun. Di blok kebun yang terlalu luas, air yang menggenang di atas hamparan lahan pertanaman membutuhkan waktu cukup lama untuk keluar melalui saluran drainase ini. Karena itu, rorak yang dibuat di sekitar pertanaman dapat membantu mempercepat keluarnya air dari hamparan pertanaman, khususnya di lahan yang tekstur tanahnya berat dan beriklim sangat basah dengan curah hujan bulanan relatif tinggi.

Rorak di perkebunan kakao berukuran panjang 100 cm, lebar 30-50 cm, dan kedalaman 30-50 cm. Jika volume bahan organik yang tersedia cukup banyak ukuran rorak dapat diperbesar. Rorak dibuat pada jarak 75 - 100 cm dari pokok tanaman, tergantung dari lebar teras yang tersedia di areal pertanarnan. Pemanfaatan rorak dapat dikaitkan dengan pengelolaan sumber bahan organik di lingkungan perkebunan, seperti daun penaung, kulit kakao, dan tanaman penurup tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada areal pertanaman dengan curah hujan dan intensitas hujan tinggi, tanah bertekstur beret dan permukaan air tanahnya relatif dangkal, maka rorak tambahan dapat dibuat di antara barisan tanaman kakao dengan ukuran lebih panjang dan dalam. Di lahan miring, pembuatan rorak dapat menekan erosi karena dapat mengurangi aliran permukaan yang bisa menyebabkan erosi. Di lahan miring yang dibuat teras, rorak dibuat di sebelah dalam teras

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN PEMBUATAN RORAK

  1. Mencegah hilangnya tanah lapisan atas oleh erosi dan aliran permukaan (run off).
  2. Menampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya.
  3. Untuk mengembalikan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
  4. Untuk menampung bahan organik, sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.

 

STANDAR PEMBUATAN RORAK

  1. lahan berupa lahan kering, dalam 1 ha dapat dibangun 30 unit.
  2. Panjang rorak 1m sampai 5 m, lebar 0,3 m sampai 0,5 m.
  3. Kemiringan lahan antara 3% sampai 30%.
  4. Lahan peka terhadap erosi.
  5. Ketinggian tempat kurang dari 1.500 m dpl. (masih memungkinkan tanaman dapat diusahakan).
  6. Lahan masih diusahakan oleh petani tetapi produktivitasnya telah mengalami penurunan.

 

CARA PEMBUATAN RORAK

  1. Bersihkan lahan dari semak dan gulma.
  2. Lakukan pengukuran pada bidang olah sesuai kontur dengan ondol-ondol dan pasang ajir pada ketinggian yang sama.
  3. Tentukan letak rorak yang akan dibuat sesuai dengan ajir yang telah dipasang.
  4. Ukur panjang, lebar rorak sesuai dengan keadaan lahan dan tanaman supaya tidak menganggu pertumbuhan tanaman (biasanya panjang 1 m sampai 5 m, lebar 0.3 m membentuk huruf U menghadap lereng).
  5. Gali rorak dengan kedalaman 0,3 m sampai 0,5 m dan tanah galian di atur membentuk bedengan dengan ketinggian 0,2 m dan lebar 0,3 m membentuk huruf U menghadap lereng.
  6. Ulangi cara pembuatan rorak tersebut pada tempat lain sesual ajir yang telah dipasang.
  7. Jarak vertikal rorak satu dengan kedua antara 10 m sampai 15 m.
  8. Lakukan perawatan berkala supaya rorak tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

 

MENGGUNAKAN RORAK SEBAGAI MEDIA PENAMPUNG BAHAN ORGANIK

Untuk tetap menjaga kesuburan tanah, perlu dipupuk dan salah satu cara yang murah dan mudah dilaksanakan oleh petani adalah dengan mengembalikan kulit buah kakao ke dalam rorak dengan cara:

  1. Masukan kulit buah kakao setinggi 2/3 kedalaman rorak.
  2. Campur Em4 atau bahan pengurai lain dan air sesuai dosis dan siramkan pada kulit buah kakao di dalam rorak.
  3. Tutup rorak dengan plastik putih dalam tanah setebal 5 cm - 10 cm.
  4. Setelah 4 - 6 minggu bahan organik tersebut sudah menjadi kompos.

 

SUMBER :

Danial Darniaty, M. Hidayanto, 2012. Rorak Pada Tanaman Kakao. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur, Samarinda.

Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/Gap On Cocoa). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.