JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pengendalian PBK Dan Helopeltis Dengan Semut Hitam

 

Oleh :

Ir. MADE RATNADA, MP

Penyuluh pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT

 

 

PENDAHULUAN

Penggerek buah kakao (PBK) (Conophomorpha cramerella) dan pengisap buah dan pucuk kakao (Helopeltis spp.) masih menjadi hama utama pada tanaman kakao rakyat di Nusa Tenggara Timur. Serangan kedua hama tersebut dirasakan sangat merugikan oleh pekebun kakao. Hama PBK dapat menurunkan produksi lebih dari 80 % apabila tidak dilakukan pengendalian sama sekali, sedangkan hama Helopeltis spp mengakibatkan penurunan produksi lebih dari 60 %.

Berbagai cara pengendalian kedua hama tersebut telah dicoba oleh pekebun namun belum memberikan hasil yang afektif dan kurang efisien. Penggunaan pestisida juga telah dilakukan namun karena harganya yang cukup tinggi, pekebun tidak mampu membelinya dan tidak menggunakannya lagi. Di samping itu, konsumen kakao saat  ini  cenderung  menghendaki  produk kakao yang aman bagi kesehatan, tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya termasuk pestisida.

Penggunaan semut hitam sebagai agen hayati pemangsa hama PBK dan Helopeltis dapat menjadi alternatif cara pengendalian hama dimaksud secara efaktif dan efisien. Serangga semut hitam (Dolichoderus thoracicus) telah lama dikenal sebagai agen hayati hama PBK dan Helopeltis.

MENGENAL SEMUT HITAM

Semut hitam dikenal dengan nama ilmiah Dolichoderus thoracicus dahulu nama ilmiahnya adalah Dolichoderus bituberculatus, termasuk dalam subfamili Dolichoderinae, famili Formicidae dan ordo Hymenoptera. Semut hitam dewasa pekerja berukuran 4-5 mm dan biasanya berasosiasi dengan kutu putih Cataenococcus hispiridus (dulu dikenal sebagai Planococcus lilacinus)

 

 

 

 

 

Gambar 1.  Semut hitam bersimbiose dengan kutu putih (Cataenococcus hispidis) (A) dan koloni semut hitam (B)

Koloni semut hitam banyak dijumpai di pohon rambutan, sirsak, kelapa, dsb. Dan ciri khas spesiaes ini adalah apabila istirahat seolah-olah seperti duduk dengan bagian perut (abdomen) berada menempel pada bagian batang. Semut ini tidak menggigit, hanya kdang-kadang mengeluarkan asam semut yang terasa pedas apabila mengenai mata. Oleh karena itu jenis semut ini kurang berbahaya bagi pekerja kebun.

CARA PEMAPANAN SEMUT HITAM DI KEBUN KAKAO

Semut hitam adalah termasuk serangga yang hidup berkelompok atau disebut juga serangga sosial. Serangga demikian biasanya mendominasi lingkungan perkembangbiakannya, sehingga apabila ada kelompok serangga lain atau jenis semut lain yang mendiami tempat perkembangbiakannya past akan diusir atau akan saling menyerang sehingga yang bertahan hanya satu jenis semut saja. Hal ini perlu diperhatikan dalam memapankan semut hitam dalam suatu ekosistem. Apabila dijumpai jenis semut lain dalam ekosistem tersebut maka harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara dikendalikan menggunakan bahan kimia atau insektisida. Misalnya, yang sering dijumpai dipertanaman kakao adalah jenis semut Angrang (Oesophylla smaragdina), semut Gramang (Anoplolepis longipes), dan Crematogaster spp.

  

Gambar 2.  Semut Gramang (Anoplolepis Longipes) pada kakao yang perlu dihilangkan dalam rangka mengembangkan semut hitam di pertanaman kakao.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam memapankan semut hitam pada pertanaman kakao adalah :

  1. Apabila terdapat jenis semut lain maka semut tersebebut harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara disemprot dengan ensektisida yang efektif.
  2. Lakukan pemasangan sarang semut menggunakan daun kelapa kering yang telah diikat (gambar 3A) atau daun kakao kering yang ditempatkan didalan kantong plastik (gambar 3B). Juga dapat dibuat menggunakan daun kakao kering yang digulung. Setiap pohon kakao dipasang minimal 3 buah sarang.
  3. Apabila pada lokasi pemapanan belum ditemukan semut hitam sama sekali maka perlu dilakukan introduksi semut hitam dari luar dengan cara memasang sarang semut hitam yang telah dihuni.  

Gambar 3.  Sarang semut hitam yang terbuat dari daun kelapa kering (A), daun kakao kering di dalam kantong plastik (B), daun kakao kering yang digulung (C).

  1. Untuk mempercepat pemapanan semut hitam dan menjaga populasinya tetap tinggi perlu dilakukan introduksi kutu putih (Cataenococcus hispidus) pada pertanaman kakao tempat pengembangan semut hitam. Introduksi kutu putih dapat dilakukan dengan cara menempelkan sayatan kulit buah kakao pada batang/cabang kakao sebagaimana terlihat pada gambar 4 A dan 4B. Dengan menginokulasikan kutu putih tersebut, semut hitam akan terjamin makanannya dari embun madu yang dikeluarkan kutu putih. Selain itu, dapat digunakan cairan gula/terasi yang diberikan pada sarang.

Gambar 4.  Menyelipkan sayatan kulit buah berisi kutu putih di atas buah kakao (A) dan dengan cara menancapkan kulit buah tersebut menggunakan lidi atau bambu (B).

PEMELIHARAAN SEMUT HITAM

Untuk pemeliharaan semut hitam agar populasinya tetap tinggi dan berkembang meluas, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Tidak menyemprotkan insektisida pada lokasi pengembangan semut hitam, karena penyemprotan insektisida akan memiliki dampak negatif juga mematikan koloni semut hitam sehingga perkembangannya menjadi terhambat dan lambat laun akan hilang.
  2. Pembaharuan sarang. Ini harus dikerjakan paling tidak setiap 6 bulan sekali apabila sarang semut telah kelihatan lapuk.
  3. Menghilangkan koloni jenis semut lain selain semut hitam, misalnya semut gramang, semut angrang, semut Cremastogaster, dsb, dengan cara menyemprotkan insektisida yang efektif.
  4. Inoculasi kutu putih secara terus menerus pada pohon-pohon kakao yang populasi kutu putihnya kurang.
  5. Tidak mengubah ekosistem pertanaman kakao secara drastis, misalnya dengan pemangkasan berat sehingga akan mengubah lingkungan mikro pada pertanaman kakao sehingga tidak sesuai untuk perkembangan semut hitam. Pemangkasan hendaknya dilakukan secara ringan tetapi dengan frekuensi yang sering.
  6. Pemapanan semut hitam akan menjadi mudah dan perkembangan semut dapat lebih dipertahankan apabila tanaman kakao ditumpangsari dengan tanaman kelapa karena tanaman kelapa banyak menyediakan makanan semut hitam serta daunnya bisa digunakan sebagai sarang.

DAMPAK POSITIF PENGEMBANGAN SEMUT HITAM

Semut hitam pada tanaman kakao akan berdampak positif dapat mengendalikan hama PBK  dan Helopeltis spp. pada tanaman kakao, yaitu :

  1. Hama PBK ( cramerella). Dengan meluasnya hama PBK di Indonesia saat ini, semut hitam merupakan cara pengendalian biologi yang memiliki prospek untuk dikembangkan dengan biaya murah, aman bagi lingkungan dan berkesinambungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agar semut hitam efektif mengendalikan PBK, maka populasi semut hitam harus mencakup 70 % atau lebih dari buah di tiap pohon kakao.
  2. Hama Helopeltis spp. Sejak lama telah terbukti bahwa semut hitam dapat mengendalikan hama Helopeltis spp. Agar pengendalian efektif populasi semut hitam minimal terdapat pada 60 % buah dalam tiap pohon.
  3. Karena pengendalian menggunakan semut hitam tidak melibatkan pengendalian dengan pestisida, maka tanaman kakao yang diterapkan pengendalian dengan semut hitam akan menghasilkan biji kakao bebas pestisida. Hal ini akan memberikan nilai tambah yang sangat berharga dalam pasaran global.

 

Sumber :

CABI, ICCO, 2014. Pengenalan Hama dan Penyakit Utama pada Kakao. Disampaikan pada kegiatan TOF Sulawesi Tenggara, 16 –21 Desember 2014 Kerjasama antara ICCRI & CABI.

Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/Gap On Cocoa). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.

Prawoto A. Adi, Endri Martini, 2014. Pedoman Budi Daya Kakao pada Kebun Campur. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute) bekerja sama dengan AGFOR SULAWESI, Jember.

Puslit Koka, 2009. Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus) untuk Pengendalian Hayati Hama Utama tanaman Kakao. Puslit Koka, Jember.