JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pengendalian Penyakit Pembuluh Kayu (Vascular Streak Dieback/VSD) Pada Tanaman Kakao

 

Oleh :

Ir. MADE RATNADA, MP

Penyuluh Pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT

 

 

PENDAHULUAN

Rendahnya produksi dan produktivitas tanaman kakao di Nusa Tenggara Timur di antaranya disebabkan oleh serangan hama dan penyakit. Salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman kakao di daerah tersebut adalah Penyakit Pembuluh Kayu (PPK/VSD). Jika tidak dikelola dengan baik, serangan penyakit ini dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar bahkan sampai 100 %.

Pengenalan penyebab, gejala dan cara pengendalian penyakit ini secara baik serta menerapkan pengendalian secara tepat diharapkan dapat menekan bahkan meniadakan kerugian akibat serangannya. 

PENYEBAB

Penyakit pembuluh kayu (Vascular Streak Dieback/VSD) disebabkan oleh jamur Oncobasidium theobromae. Penyakit ini menyebar melalui basidiospora pada malam hari. Perkembangan penyakit sangat dibantu oleh kelembaban atau curah hujan yang tinggi dan suhu dingin di malam hari.

GEJALA

Infeksi selalu terjadi melalui daun muda pada titik tumbuh dan jamur melakukan penetrasi ke dalam batang. Infeksi dapat menyebabkan kematian pada bibit yang hanya memiliki satu titik tumbuh. Setelah jorket terbentuk, infeksi dapat berkembang pada batang utama dan menyebabkan kematian tanaman.

Pada tanaman dewasa, semua titik tumbuh dapat terinfeksi oleh penyakit. Penyakit tidak berkembang pada cabang yang lebih besar kecuali pada klon rentan yang dapat menyebar ke batang dan menyebabkan kematian tanaman. Selama penetrasi awal jamur ke dalam jaringan tanaman, tidak terdapat gejala yang tampak pada tanaman.

Gejala awal yang dapat dengan mudah dilihat adalah menguning (klorosis) pada satu daun, biasanya pada daun muda (flush) kedua atau ketiga, dengan bercak hijau tersebar sekitar 2 - 5 mm. Gejala pada bibit muda muncul setelah beberapa minggu, sedangkan pada cabang di pohon dewasa, gejala baru muncul setelah 2-3 bulan.

 

 

 

 

 

 

 

Dalam beberapa hari, daun akan gugur dan daun yang berdekatan akan mengalami gejala kekuningan dengan cara yang sama, selanjutnya daun tersebut juga akan gugur dan mengakibatkan gejala ranting ompong. Gejala yang sangat khas adalah munculnya tiga noktah hitam pada bekas dudukan daun.

Nekrosis pada titik tumbuh (daun muda) juga merupakan salah satu karakteristik dari penyakit ini. Pada saat ranting dibelah secara membujur akan nampak alur berwarna kecoklatan.

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

Akhirnya, gugur daun terjadi sampai ujung tumbuh daun muda (flush) kemudian terjadi mati pucuk dan diikuti oleh kematian sisa bibit atau ranting. Jamur dapat menyebar secara internal pada cabang atau batang lain. Jika batang terinfeksi, pohon biasanya mati. Perkembangan penyakit dari infeksi awal sampai pada tahap mati pucuk biasanya memakan waktu 5 bulan pada pohon dewasa, tetapi hanya beberapa minggu dalam bibit muda. Puncak penyakit terjadi 3 sampai 5 bulan setelah curah hujan musiman yang tinggi.

Ketika daun yang terinfeksi gugur selama cuaca basah, hifa (benang) jamur dapat muncul dari bekas duduk daun dan berkembang menjadi miselium dan membentuk spora. Ciri – ciri miselium berwarna putih dan seperti beludru yang melapisi bekas duduk daun dan kulit kayu didekatnya. Dalam cuaca kering, bekas duduk daun cepat mengeras dan mencegah munculnya jamur.

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENDALIAN SECARA TERPADU:

  • Melakukan pangkasan dan sanitasi yaitu memotong semua ranting sakit sampai 30 cm ke arah bagian yang sehat dan tunas-tunas muda yang tumbuh dilindungi dengan fungisida sistemik berbahan aktif antara lain azoxytrobim dan defanoconazol atau fungisida berbahan aktif triademeton 0,1 %, triadimenol 0,1 %, bitertanol 0,1 % dengan cara  disemprotkan dengan interval 2 minggu sekali. Di samping itu melakukan penyehatan tanaman dengan mengoptimumkan fungsi tanaman pelindung, pemupukan dan pemangkasan kakao.
  • Pada tanaman di pembibitan, lokasi pembibitan dibuat tidak di sekitar tanaman kakao yang terserang VSD. Bibit yang terserang segera disingkirkan dari lokasi pembibitan dan dimusnahkan. Rumah pembibitan diberi atap plastik untuk mencegah jatuhnya sprora patogen ke daun muda di pembibitan.
  • Pengendalian jangka panjang, dengan cara sambung samping atau sambung pucuk yaitu menggunakan klon tahan seperti ICCRI 03, ICCRI 04, Sulawesi-1, Sulawesi-2 dan Scavina-6 (Sca-6). Penggunaan bahan tanaman tersebut harus diikuti dengan pemeliharaan tanaman dan teknik budidaya (pemangkasan, pengaturan naungan, pemupukan) yang benar.

 

SUMBER :

CABI, ICCO, 2014. Pengenalan Hama dan Penyakit Utama pada Kakao. Disampaikan pada kegiatan TOF Sulawesi Tenggara, 16 –21 Desember 2014 Kerjasama antara ICCRI & CABI.

Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP On Cocoa). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.

Proyek STDF-CABI-ICCO-ICCRI, 2014. Panduan Pelatihan Fasilitator Utama (Training of Master Facilitator). Proyek STDF-CABI-ICCO-ICCRI, Jember.