JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Panen Sering, Pemangkasan, Pemupukan Dan Sanitasi (P3S) Kakao

Panen Sering, Pemangkasan, Pemupukan Dan Sanitasi (P3S) Kakao

Oleh :

Ir. Made Ratnada, MP

Penyuluh pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT

 

PENDAHULUAN

Produktivitas dan kualitas kakao di Nusa Tenggara Timur dalam beberapa tahun teakhir ini mengalami penurunan. Faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kondisi tersebut antara lain adalah tingginya serangan hama dan penyakit terutama penggerek buah kakao, helopeltis dan busuk buah kakao, sebagian besar tanaman telah berumur tua, penerapan teknik budidaya yang belum tepat dan penanganan pasca panen yang kurang baik.

Penerapan teknik budidaya yang tepat dapat menjadi solusi pencapaian tingkat produktivitas dan kualitas kakao yang diharapkan. Salah satu teknik budidaya dimaksud adalah panen sering, pemangkasan, pemupukan dan sanitasi yang disebut P3S. Penerapan teknik budidaya ini dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan serta pengendalian hama dan penyakit kakao.      

PANEN SERING (P)

Panen sering adalah melakukann panen buah kakao lebih awal dan serentak terhadap buah kakao yang telah memperlihatkan siap panen (warna kekuningan atau buah kakao tua). Panen Sering dilaksanakan setiap 7-10 hari sekali dengan memotong tangkai buah dengan gunting pangkas atau sabit bergalah. Tangkai buah disisakan 1 – 1,5 cm dari batang atau cabang. Buah yang dipanen jangan ditarik atau diputar karena dapat merusak bantalan buah. Perlu diperhatikan bahwa pemanenan harus dilakukan tanpa merusak bantalan bunga, sebab bantalan inilah yang akan menghasilkan bunga dan buah untuk panen berikutnya. Panen harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak pohon, sebab pohon yang rusak akan memudahkan jamur-jamur parasit masuk melalui jaringan batang yang rusak.

Untuk keperluan pengendalian penggerek buah kakao (PBK), panen sering bertujuan untuk memutus siklus hama tersebut yaitu dilakukan dengan cara memanen buah ketika menunjukkan gejala awal masak (masak tidak normal), buah segera dibuka dan kulit buah beserta plasenta dibenam dalam tanah.

PEMANGKASAN (P):

Tujuan pemangkasan secara umum untuk membentuk kerangka dasar tanaman yang seimbang (cabang tanaman kakao yang baik dan kuat), meratakan sebaran daun produktif, membuang bagian tidak produktif, mengatur pertunasan, mengatur masuknya sinar matahari ke dalam kebun secara merata sehingga tanaman lebih produktif menghasilkan makanan (fotosintesa), mengatur aliran udara, merangsang pembungaan dan pembentukan buah, mengurangi kelembaban sehingga aman dari serangan hama dan penyakit, memudahkan pelaksanaan panen dan pemeliharaan.

Pemangkasan Bentuk. Dilakukan setelah tanaman kakao berumur 8 bulan. Setiap dua minggu tunas-tunas air dipangkas dengan cara memotong tepat di pangkal batang utama atau cabang primer yang tumbuh. Cabang dikurangi sehingga tinggal 3 - 4 cabang saja. Cabang yang dibutuhkan adalah cabang yang simetris terhadap batang utama, kukuh, dan sehat. Tanaman yang cabang-cabang primernya terbuka, sehingga jorket langsung terkena sinar matahari, sebaiknya diikat melingkar agar pertumbuhannya membentuk sudut lebih kecil terhadap batang utama atau tajuk menjadi lebih ramping. Kadang-kadang dilakukan juga pemangkasan terhadap cabang primer yang tumbuhnya lebih dari 150 cm untuk merangsang tumbuhnya cabang cabang sekunder. Untuk bibit vegetatif, pemangkasan tanaman belum menghasilkan dilaksanakan agar cabang yang tumbuh tidak rendah.

Pemangkasan pemeliharaan. Dilakukan pada tanaman yang telah menghasilkan. Tujuannya untuk mempertahankan kerangka yang telah terbentuk baik dengan cara memotong cabang-cabang sekunder dan tersier yang tumbuhnya kurang dari 40 cm dari pangkal cabang primer ataupun sekunder, cabang yang ujungnya masuk ke dalam tajuk tanaman dan berdiameter kurang dari 2,5 cm, tunas air dipangkas 2-4 minggu sekali.

Pemangkasan produksi. Dilakukan untuk merangsang pembungaan dan pembentukan buah. Caranya dengan memangkas cabang-cabang yang tidak produktif, tumbuh ke arah dalam, menggantung, kering, menambah kelembaban dan dapat mengurangi intensitas matahari bagi daun. Usahakan cahaya masuk sampai lantai kebun 3–10 %.

Pemangkasan pemendekan tajuk. Tujuannya untuk membatasi tinggi tajuk tanaman sekitar 3,5-4 m. dilakukan setahun sekali pada awal musim hujan, hindari pemangkasan saat tanaman berbunga lebat  atau ketika sebagian besar buah masih pentil (panjang buah kurang dari 10 cm).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan produksi adalah:

  • Pangkasan tidak dibenarkan pada saat tanaman sedang berbunga lebat atau sebagian besar buahnya masih muda atau pentil (panjang < 10 cm).
  • Jorget dan cabang-cabang primer tidak boleh terbuka karena bantalan bunga dapat kering oleh penyinaran matahari yang terik.
  • Pemangkasan berat hanya dilakukan jika terpaksa, misalnya karena tanaman tidak pernah dipangkas dalam waktu lama atau karena cabang-cabangnya rusak.
  • Lakukan pemupukan setelah pemangkasan.
  • Kriteria pangkasan yang benar yaitu pada siang hari ada spot-spot cahaya di lantai kebun, suasana di dalam kebun tidak terlalu gelap atau terlalu terang, bunga dan buah tumbuh pada semua tanaman dan mulai dari permukaan tanah.

PEMUPUKAN (P)

Tujuan pemupukan untuk menambah unsur hara ke dalam tanah, memperbaiki sifat fisik tanah dan keseimbangan unsur-unsur hara dalam tanah serta beberapa peranan lainnya.

Manfaat pemupukan adalah memperbaiki kondisi dan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti kekeringan dan pembuahan terlalu lebat; meningkatkan produksi dan mutu hasil; mempertahankan stabilitas produksi yang tinggi

Prinsip pemupukan yang perlu diperhatikan adalah diutamakan menggunakan teknik alami untuk mempertahankan dan mengoptimumkan kesuburan tanah; di samping pupuk anorganik, disarankan menggunakan pupuk organik atau kompos; meningkatkan efisiensi, mengurangi ketergantungan pada sumber tidak terbarukan; pupuk disimpan di tempat yang aman, tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Jenis pupuk yang lazim digunakan adalah Urea (46 % N), ZA (21 N%), TSP (46 % P2O5), Sp-36 (36 % P2O5, KCl (62 % K2O), Kieserit (27 % MgO), Dolomit (19 % MgO), pupuk organik.

Jenis dan dosis pupuk berdasarkan umur tanaman sebagai berikut.

Umur

(tahun)

Urea

(g/phn/thn)

TSP/SP-36

(g/phn/thn)

KCl

(g/phn/thn)

Kieserit

(g/phn/thn)

Organik

(kg/phn/thn)

Bibit

5

5

4

4

0,5

0-1

25

25

20

20

3,6

1-2

45

45

35

40

3,6

2-3

90

90

70

60

5,5

3-4

180

180

135

75

5,5

>4 tahun

220

180

170

115

7,3

Waktu Pemupukan. Pemupukan tanaman kakao sebaiknya dilakukan setelah kegiatan pemangkasan, dilaksanakan pada awal musim hujan dan akhir musim hujan sehingga pupuk mudah diserap oleh tanaman karena kandungan air dalam tanah masih tersedia.

Cara Pemupukan. Dibenamkan dalam tanah agar pupuk aman tidak menguap dan tidak terlalu banyak pupuk yang dibutuhkan dan frekuensi pemberiannya cukup 2 kali setahun. Pemupukan pada tanaman yang belum menghasilkan dilaksanakan dengan cara menaburkan pupuk secara merata, dalam alur sedalam 2-5 cm kemudian ditutup tanah, dengan jarak 15 – 50 cm (untuk umur 2 – 10 bulan) dan 50 – 75 cm (untuk umur 14 –20 bulan) dari batang utama. Untuk tanaman yang telah menghasilkan, penaburan pupuk, dalam alur sedalam 5-10 cm kemudian ditutup tanah, pada jarak 50 –75 cm dari batang utama.

SANITASI (S)

Sanitasi adalah suatu kegiatan pembersihan bagian-bagian tanaman yang terinfeksi oleh hama dan penyakit. Dilakukan dengan cara memangkas cabang-cabang dan memetik buah-buah terserang hama, membelah buah busuk kemudian membenamkan kulit buah, plasenta, buah busuk dan semua sisa panen ke dalam lubang pada hari panen, lalu tutup dengan tanah hingga ketingian 20 cm. Tujuannya untuk membunuh larva PBK, memutus perkembangan jamur penyebab busuk buah yang terdapat di kulit kakao.

Sumber :

  • Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor
  • Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.
  • Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/Gap On Cocoa). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.
  • Prawoto A. Adi, Endri Martini, 2014. Pedoman Budi Daya Kakao pada Kebun Campur. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute) bekerja sama dengan AGFOR SULAWESI, Jember