JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao

Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao

Oleh :

Ir. Made Ratnada, MP

Penyuluh pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT

 

Pendahuluan

Hama penggerek buah kakao (Conophomorpa cramerella) atau sering disebut PBK merupakan salah satu hama yang paling sering dijumpai dalam budidaya kakao. Hama ini menyerang buah dan menyebabkan turunnya kuantitas dan kualitas hasil.

Petani di sentra produksi kakao di Nusa Tenggara Timur selalu mengeluhkan kerusakan yang diakibatkan hama ini. Serangan hama ini seringkali berdampak besar terhadap usahatani kakao. Kerugian akibat serangannya adalah kehilangan hasil antara 59 – 81 %, menurunkan mutu biji, meningkatkan kandungan sampah, meningkatkan biaya panen. Oleh karena itu, pengenalan siklus hidup, gejala serangan, dan teknik pengendalian hama ini perlu dipahami agar serangannya tidak menimbulkan kerugian yang besar.

Siklus hidup hama penggerek buah kakao

Hama penggerek buah kakao adalah serangga yang bermetamorfosis sempurna. Siklus hidupnya dimulai dari telur yang berubah menjadi larva. Dari larva menjadi imago (serangga dewasa) yang akan berkembang biak untuk memulai siklus hidup lagi. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus kurang dari 35 hari.

Imago betina penggerek buah kakao berumur 5-7 hari. Dalam kurun waktu tersebut bisa menghasilkan 100 – 200 butir telur. Hama ini meletakkan telurnya di permukaan buah kakao yang berusia 3 – 4 bulan.

Dalam waktu kurang dari 7 hari, telur-telur tersebut akan menetas dan keluarlah larva-larva yang lantas menggerek kulit dan masuk ke dalam buah kakao. Larva ini tumbuh dewasa di dalam buah, melahap plasenta dan daging buah yang membungkus biji kakao.

Setelah 14 hari tinggal di dalam buah kakao, larva dewasa akan menggerek ke luar buah. Kemudian turun ke permukaan tanah untuk mencari daun kering yang akan digunakannya sebagai media hidup selama menjalani fase kepompong atau pupa. Setelah 7 hari menjalani fase kepompong, serangga ini berubah menjadi imago. Imago tersebut akan terbang, kawin, dan hinggap ke buah-buah kakao untuk meletakkan telurnya.

Gejala serangan

Serangan hama penggerek buah kakao dapat dikenali dari perubahan warna kulit buah menjadi belang hijau-kuning atau tampak seperti matang sebelum waktunya. Buah ini bila dibuka, bagian dalamnya akan berwarna coklat kehitaman.

Pada kulit buah yang terserang juga terdapat titik hitam yang merupakan bekas liang gerekan larva penggerek buah kakao. Biji dari buah yang terserang biasanya berukuran kecil dan saling berdempetan atau saling lengket satu sama lain. Biji ini sulit dikeluarkan karena melekat kuat pada kulit buah. Biji dari buah yang terserang penggerek buah kakao umumnya memiliki kadar lemak yang rendah sehingga harga jualnya pun rendah.

 

Pengendalian hama penggerek buah kakao

Bila tidak dikendalikan dengan serius, hama penggerek buah kakao dapat mengancam kelangsungan usaha budidaya. Oleh karena itu pemahaman tentang berbagai teknik pengendalian hama ini sangat dibutuhkan oleh para petani agar kerugian yang ditimbulkan akibat serangga ini dapat diminimalkan.

Secara umum, pengendalian serangan hama penggerek buah kakao dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, biologis, dan kimiawi.

Kultur teknis

Secara kultur teknis, pengendalian hama penggerek buah kakao dapat dilakukan dengan menerapkan teknik budidaya yang sebisa mungkin mampu menekan keberadaan hama ini di areal penanaman. Teknik budidaya yang dimaksud meliputi pemilihan klon kakao, pemilihan jenis pohon penaung, pemangkasan, kondomisasi, pemupukan, panen sering dan sanitasi.

  • Pemilihan klon merupakan tahapan awal dalam teknik pengendalian hama secara terpadu. Dengan menanam klon-klon kakao unggul yang memiliki ketahanan terhadap serangan hama penggerek buah kakao seperti ICCRI 7 dan Sulawesi 3 diharapkan tanaman kakao yang tumbuh nantinya tidak mudah terserang hama ini.
  • Pemupukan secara tepat (tepat jenis, dosis, waktu dan cara) agar tanaman tetap sehat dan berproduksi tinggi.
  • Pemilihan pohon penaung merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam usaha budidaya tanaman kakao. Kesalahan memilih jenis pohon penaung dapat menyebabkan intensitas serangan hama penggerek buah kakao menjadi sangat tinggi. Penggunaan pohon penaung yang bisa menjadi tanaman inang bagi hama penggerek buah kakao seperti rambutan, mata kucing,pulasan, kasai, cola, namnam, dan langsat sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan populasi hama penggerek di areal penanaman kakao menjadi sangat tinggi.
  • Kondomisasi dengan cara memberikan selubung pada buah kakao agar imago hama penggerek buah tidak dapat meletakan telurnya di permukaan buah. Selubung berupa plastik bening diikatkan pada buah sejak buah masih kecil (berukuran panjang 8 – 12 cm). Plastik yang digunakan untuk kondomisasi minimal berukuran 30 x 15 cm. Agar kelembaban dalam selubung tidak terlalu tinggi, bagian ujung selubung yang menghadap ke bawah harus dilubangi.
  • Pemangkasan secara berkala penting dilakukan untuk menjaga kondisi kelembaban kebun. Kebun yang terlalu lembab memungkinkan hama penggerek buah untuk melakukan reproduksi secara lebih masif. Pemangkasan dilakukan dengan membuang cabang-cabang atau ranting kakao yang saling bertumpang tindih dan mengurangi lingkar tajuk tanaman penaung yang terlalu lebat agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kebun.
  • Pemupukan berimbang yang dilakukan dapat membantu tanaman untuk tumbuh dan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Dengan pemupukan yang tepat dosis, waktu, jenis, dan cara, tanaman akan lebih kuat dalam menghadapi serangan hama ini.
  • Panen sering dan sanitasi dilakukan dengan tujuan agar siklus hidup hama penggerek buah kakao terputus. Telur dan larva serangga yang terdapat pada buah akan ikut musnah bila kita melakukan panen sesering mungkin, begitupun dengan sanitasi kebun yang dapat memutus siklus hidup pada fase kepompong.

Pengendalian biologis

Pengendalian hama penggerek buah kakao secara biologi dapat dilakukan dengan melepaskan musuh alaminya baik dari golongan predator maupun parasitoid. Predator dari hama ini antara lain semut hitam (Dolichoderus thoracicus), semut rangrang (Oesophylla smaragdina), dan laba-laba (Arachnida). Sedangkan parasitoidnya antara lain Gorypus spp., Paraphylax spp., Ceraphron-spp., Phaenocarpa-spp., Beauveria-bassiana, dan jamur Trichogrammatoidea-bactreafumata.

Pengendalian kimiawi

Pengendalian kimiawi dilakukan bila serangan hama penggerek buah kakao di kebun sudah dalam intensitas yang tinggi. Pengendalian kimiawi sebaiknya dilakukan setelah teknik pengendalian kultur teknis dan pengendalian biologi usai dilakukan. Pengendalian kimiawi hama penggerek buah kakao dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida kontak maupun sistemik dari bahan aktif seperti Propoxar, Deltametrin, sihalotrin, sipermetrin, bifentrin, esvenvalerat, betasiflutrin. Penyemprotan dilakukan saat tingkat serangan sedang dan berat >30 % atau saat banyak buah pentil di pohon. Sasaran penyemprotan adalah buah muda dan cabang horisontal.

Sumber :

CABI, ICCO, 2014. Pengenalan Hama dan Penyakit Utama pada Kakao. Disampaikan pada kegiatan TOF Sulawesi Tenggara, 16 –21 Desember 2014 Kerjasama antara ICCRI & CABI.

Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Tekknologi Budidaya Kakao.Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/Gap On Cocoa). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.