JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pengendalian Penyakit Busuk Buah Kakao

Pengendalian Penyakit Busuk Buah Kakao

Oleh :

Ir. Made Ratnada, MP

Penyuluh pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT

 

PENDAHULUAN

Penyakit busuk buah kakao (BBK) merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya kakao karena merupakan faktor pembatas produksi yang penting. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman terutama pada buah muda dan buah matang.

Di Nusa Tenggara Timur, penyakit ini sangat meresahkan sebagian besar petani di sentra pengembangan tanaman kakao karena dapat mengakibatkan kerusakan buah lebih dari 50 % dan pengendaliannya belum sesuai harapan yang selama ini dilakukan secara parsial dan tidak menggunakan semua komponen pengendalian yang tersedia.

Pengendalian penyakit buah buah akan memberikan hasil yang lebih efektif jika dilakukan secara terpadu dengan menerapkan semua komponen meliputi penanaman varietas unggul, teknik budidaya, dan teknik pemangkasan yang benar, pengamatan serangan penyakit secara kontinyu, pengambilan dan pemusnahan buah sakit, sanitasi kebun, penggunaan agens hayati dan fungisida nabati, serta penggunaan pestisida sintetik secara bijaksana

 

GEJALA PENYAKIT

  • Penyakit busuk buah kakao (Phytophthora palmivora) diawali dengan munculnya bercak kecil pada buah, sekitar dua hari setelah infeksi. Bercak berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat sampai seluruh buah tertutup.
  • Buah  menjadi  benar–benar  menghitam  sekitar  14  hari  dan  jaringan  internal  termasuk  biji, mengerut membentuk mumi yang merupakan sumber utama infeksi busuk buah.
  • Miselium berwarna putih muncul pada permukaan buah yang terinfeksi dan menjadi lebih padat pada saat penyakit berkembang. Miselium akan menghasilkan sporangium yang didalamnya terdapat banyak spora. Spora merupakan metode penyebaran penyakit dan dapat disamakan dengan benih pada tanaman, karena ini adalah metode yang paling umum dari penyebaran tanaman.
  • Spora dilepaskan dari sporangium melalui percikan air hujan ke permukaan buah dan spora disebarkan oleh tetesan air hujan untuk menginfeksibagian lain dari pohon kakao.
  • Penyakit  ini  juga  menginfeksi  batang,  bantalan  bunga  dan  tunas  air.  Infeksi  pada  batang mengakibatkan penyakit kanker batang yang mengelilingi batang dan dapat menyebabkan kematian mendadak. Gejala kanker terlihat seperti spot berwarna hitam dan sedikit cekung pada kulit  pohon  kakao,  kadang–kadang  disertai  cairan  lengket  berwarna  merah  yang  merembes melalui  celah–celah  kulit.  Pembukaan  kulit  batang  dapat  memperjelas  gejala  penyakit  yang berupa luka berwarna kemerahan pada berkas pengangkut yang biasanya tidak menembus terlalu dalam sampai ke dalam jaringan kayu.
  • Pentingnya penyakit kanker batang ini kemungkinan diremehkan. Kanker menurunkan vigor tanaman dan daya dukung batang untuk menghasilkan buah dengan demikian berakibat pada penurunan produksi. Kanker sering dikaitkan dengan serangan penggerek cabang atau batang dimana serangga tersebut terlihat tertarik terhadap kanker.
  • Jamur penyebab penyakit kanker dapat pula menyebabkan hawar pada daun dan bibit.
  • Penyakit busuk buah dapat menyerang pada berbagai umur buah sejak buah masih kecil sampai menjelang masak. Namun demikian, fase buah yang belum matang merupakan fase yang paling peka terhadap infeksi patogen.
  • Warna buah berbecak kehitaman, umumnya bagian buah yang busuk tampak hitam dan basah, serangan dapat mulai dari bagian ujung atau dekat tangkai buah.
  • Busuk pada buah dimulai dengan bercak kecil pada buah, kemudian bercak berkembang dengan cepat menutupi jaringan internal dan seluruh permukaan buah, bahkan bagian dalam buah termasuk biji, juga terserang, akhirnya buah menjadi hitam.
  • Buah yang terinfeksi akan menjadi busuk total dalam waktu sekitar 2 minggu, tergantung ukuran buah pada saat terinfeksi.
  • Patogen menyerang jaringan internal buah dan menyebabkan biji kakao berkerut dan berubah warna, buah-buah yang sakit akhirnya menjadi hitam dan menjadi mumi

 

SIKLUS HIDUP BUSUK BUAH KAKAO

 

 

EKOLOGI

  • Semua tahap perkembangan buah, rentan terinfeksi oleh penyakit ini dan infeksi dapat terjadi pada  setiap  bagian  dari  buah.  Dalam  kondisi  lembap  dan  hujan,  satu  buah  yang  terinfeksi mungkin dapat menghasilkan sampai 4 juta spora. Air diperlukan oleh jamur untuk menyebarkan penyakit dari sumber infeksi yang dapat berupa buah, kanker batang, tanah dan akar.
  • Kondisi kelembapan tinggi memicu penyakit untuk berkembang dan menyebar dengan sangat cepat.
  • Penyakit busuk buah (P. palmivora) bertahan dalam buah yang busuk dan telah menjadi mumi, pada kanker dan pada buah yang terinfeksi serta pada seresah–seresah lainnya kurang dari 10 bulan tergantung jenis penutup tanah.
  • Penyebaran  penyakit  oleh  percikan  air  hujan  maupun  tiupan  angin  dan  bantuan  binatang (serangga yang merayap maupun yang terbang, semut, tikus, tupai, dan siput, kelelawar), serta penggunaan alat-alat pertanian dan media tanah yang telah terkontaminasi. Penyakit dapat bertahan di dalam tanah dengan membentuk klamidospora.

KERUGIAN AKIBAT PENYAKIT

  • Mengakibatkan Kerugian lebih dari 50 %. Kerusakan dan kerugian yang paling besar jika infeksi patogen terjadi pada buah muda yang umurnya sekitar 2 bulan sebelum matang.
  • Menyebabkan kanker batang
  • Menyebabkan hawar daun pada tanaman dewasa
  • Menyebabkan hawar daun pada bibit

PENGENDALIAN TERPADU

  • Secara kultur teknis; dengan pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao agar terjadi  keseimbangan cahaya  dan  suhu udara  di  dalam kebun. Memetik  semua buah  busuk, mengumpulkan dan membenamkannya di dalam tanah dengan luas sesuai kebutuhan per volume buah yang terkumpul dan ditaburi Trichoderma sp., kemudian ditutup dengan tanah setebal 30 cm. Bila ingin dimanfaatkan sebagai pupuk organik dapat ditaburi dengan pupuk urea dan EM4 atau pupuk kandang
  • Sebagai tindakan preventif dapat menyemprotkan jamur Trichoderma sp. per pohon dengan dosis 200 g/lt air
  • Penggunaan klon tahan (contoh : ICCRI 03, ICCRI 04)
  • Secara kimiawi, melindungi buah sehat dengan aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga (Cu), dengan dosis 0,15-2 g Cu/pohon aplikasi 1-2 minggu sekali.
  • Penyakit  ini  juga  dapat  menyerang  bibit  di  bedengan.  Gejala  serangan,  daun-daun  muda menampakkan  gejala  seperti  tersiram  air  panas,  kemudian  layu  dan  mati.  Pengendaliannya dengan sanitasi yakni bibit terserang diambil dan bibit yang sehat dilindungi dengan aplikasi fungisida Cu

PENGELOLAAN BAHAN TANAM KAKAO BEBAS PENYAKIT BUSUK BUAH

  • Pemeriksaan lapangan harus dimulai pada awal musim hujan. Setelah 2–3 hari turun hujan secara terus menerus maka dilakukan pemeriksaan dan pembuangan infeksi primer pada semua buah dengan berbagai ukuran. Bahan tanam yang terinfeksi harus dibuang dengan hati–hati, pengomposan merupakan metode yang efektif tetapi harus dilakukan dengan baik agar  tidak menjadi sumber infeksi. Pembakaran buah–buah yang terinfeksi hanya dapat dilakukan sebagai tindakan terakhir karena selain bahan bakarnya cukup mahal, juga dapat merusak lingkungan. Panen sering pada buah–buah yang sudah masak dilakukan untuk mencegah kehilangan panen karena infeksi yang sangat ringanpun dapat menyebabkan penurunan mutu biji kakao.
  • Bibit harus ditanam dengan jarak tanam yang sesuai untuk melancarkan sirkulasi udara dan menurunkan kelembapan. Kelembapan yang rendah menurunkan kemungkinan tersedianya air untuk penyebaran spora.
  • Pemangkasan dengan metode yang tepat pada tanaman kakao sangat penting untuk dilakukan, tetapi tidak boleh terlalu renggang untuk menghindari serangan hama Helopeltis spp. Penggunaan metode kultur teknis dapat secara efektif mengendalikan penyakit busuk buah jika dilakukan dengan tepat.
  • Pengendalian gulma harus dilakukan secara teratur, terutama di awal dan selama musim hujan untuk meningkatkan sirkulasi udara dan mengurangi kelembapan dikebun kakao. Penghapusan jalan semut yang terbuat dari tanah yang menempel pada buah kakao yang dibuat oleh semut untuk menghilangkan dua sumber infeksi yaitu: spora yang terbawa dalam tanah yang terinfeksi dan yang terbawa oleh semut itu sendiri. Saat membuka lahan kakao baru, diupayakan untuk menghindari daerah–daerah yang diketahui terdapat sumber inokulum penyakit busuk buah pada tanah.
  • Mulsa juga dapat mengurangi percikan inokulum dari tanah ke buah yang menempel pada batang yang dekat tanah.

 

Sumber :

  • CABI, ICCO, 2014. Pengenalan Hama dan Penyakit Utama pada Kakao. Disampaikan pada kegiatan TOF Sulawesi Tenggara, 16 –21 Desember 2014 Kerjasama antara ICCRI & CABI.
  • Firdausil A.B, Nasriati, Alvi Yani, 2008. Tekknologi Budidaya Kakao.Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.
  • Karmawati Elna, Zainal Mahmud, M. Syakir, S. Joni Munarso, Ketut Ardana, Rubiyo, 2010. Budidaya  dan  Pasca  Panen  Kakao.  Pusat  Penelitian  dan  Pengembangan  Perkebunan, Bogor.Kementerian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (Good Agriculture Practices/Gap        On        Cocoa).        Peraturan        Menteri        Pertanian        Nomor 48/Permentan/OT.140/4/2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.
  • Proyek  STDF-CABI-ICCO-ICCRI,  2014.  Panduan  Pelatihan  Fasilitator  Utama  (Training  of Master Facilitator). Proyek STDF-CABI-ICCO-ICCRI, Jember.