JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT __ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat-Kupang-Nusa Tenggara Timur __ Tlp. 08113893766; PO BOX : 1022 Kupang 85000 __ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Dalam mengembangkan kembali ternak sapi di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah memfokuskan perhatian pada dua daerah yakni kawasan Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan di Kabaru, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim).
Demikian penjelasan Asisten II Setda NTT, Drs. Anderias Jehalu, ketika memaparkan materi pada Rapat Koordinasi Penanggulangan Masalah Sosial NTT di Hotel Romyta Kupang, Kamis (16/6/2011). “Di Besipae kita fokus kembangkan sapi timor, dan di Kabaru, Sumtim, kita kembangkan sapi ongole. Diharapkan dengan dua lokasi ini bisa jadi contoh bagi masyarakat NTT untuk kembali beternak mengembangkan sapi seperti dulu,” kata Jehalu.
Dijelaskannya, sapi yang dikembangkan di Timor termasuk di Besipae adalah sapi jenis timor. Sementara yang dikembangkan di Kabaru, Kabupaten Sumba Timur adalah sapi ongole.
Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Propinsi NTT, Ir. Semuel Rebo, menambahkan, khusus kawasan Besipae, pemerintah mengandeng Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT untuk mengembangkan ternak. “Kita lagi minta grand design dari Undana agar mereka sampaikan model perancangan, namun sampai saat ini belum dilakukan. Kemungkinan dalam waktu dekat sudah ada, tapi kita masih koordinasi,” katanya.
Ketua Tim Kerja Revitalisasi Kawasan Besipae, Ir. I Gusti Jelantik, M.Sc, di sela-sela pencanangan kawasan Besipae sebagai pusat pengembangan pertanian lahan kering secara terpadu menjelaskan, pengembangan Besipae perlu dilakukan secara terpadu dan terintegrasi antara sapi dan jagung, karena keduanya tidak bisa dipisahkan.
“Kita lakukan integrasi antara sapi dan jagung dengan pertimbangan, jagung dikembangkan dan jaringannya bisa dijadikan pakan untuk ternak sapi, sehingga keduanya ada manfaat,” kata Jelantik. (Pos Kupang)
Nusa Tenggara Timur kesulitan mengirim ternak sapi melalui Surabaya. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak Maret 2011 melarang ternak sapi dari NTT masuk Pelabuhan Surabaya menyusul dugaan penyakit antraks. Kebijakan ini dikhawatirkan berdampak buruk terhadap proses pengiriman sapi antar pulau dari NTT.

Demi suksesnya program ketahanan pangan lokal di NTT, bertempat di halaman SMA Reformasi Noelbaki Kupang, Rabu 25 Mei 2011, SMA Reformasi mengadakan sejumlah kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 103. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT dan sejumlah pejabat daerah.

Atika Hamaisa (29 thn) S2 Teknologi Pasca Panen alumni IPB Bogor, Yeni Widyaningrum (26 thn) Dokter Hewan Alumi Universitas Udayana – Bali dan Dinasti Kumara Sari (24 thn) D3 Analisis Farmasi dan Makanan Alumi Putra Indonesia Malang-Jatim, Mereka bertiga sejak 18 Mei 2011 bekerja di BPTP NTT. Mereka adalah para peserta yang lolos pada seleksi CPNS

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalokasi bantuan langsung bagi 180 kelompok tani di daerah ini sebesar Rp 4.7 miliar untuk pengembangan tanaman jagung dan padi sesuai karakteristik wilayah, Dan tersebut dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) provinsi tahun anggaran 2011.