JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

 

Kunjungan kerja pertama Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (Ka.BBP2TP) Dr. Ir. Fery Fahruddin Munir, M.Sc. di BPTP NTT disambut antusias oleh seluruh ASN BPTP NTT.  Di Aula BPTP NTT,  dilaksanakan pertemuan yang dibuka oleh Ka. BPTP NTT Dr. Proculla R Matitaputty, S.Pt., M.Si., menjelaskan tentang profil BPTP NTT kemudian dilanjutkan dengan arahan Ka. BBP2TP (Senin, 3 Mei 2021)


Dalam arahan tersebut, Ka. BBP2TP berharap agar kegiatan pengkajian dan diseminasi inovasi teknologi tetap berjalan meskipun ditengah pandemi Covid 19 dan adanya bencana banjir dan badai seroja yang baru saja melanda Nusa Tenggara Timur.
“Badan Litbang telah mengalokasikan anggaran sebagai salah satu langkah untuk percepatan penderasan/hilirisasi informasi teknologi. Oleh karena itu diharapkan para peneliti dan penyuluh punya kreativitas dalam melaksanakan Tupoksi sehingga inovasi teknologi dapat diterima dan dimanfaatkan secara langsung oleh pengguna dan stake holder terkait”, kata Ka. BBP2TP memberikan semangat bagi ASN BPTP NTT.  Balai harus memikirkan strategi yang tepat dan dapat diterima oleh pengguna, lanjutnya.
Ka.BB menekankan bahwa, saat ini kegiatan pengkajian dan diseminasi bukan lagi pada skala kecil tapi sudah berorientasi pada skala luas, terlebih kita harus melakukan pengawalan pada kegiatan Food Estate, jadi kita harus kerahkan seluruh sumberdaya yang ada untuk mensukseskan program ini.

 

Tanaman porang atau dikenal dengan Ndege  oleh masyarakat Manggarai Barat adalah salah satu tanaman liar yang telah beralih menjadi tanaman budidaya karena menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat.

Pada Kamis, 29 April 2021 Tim SDG BPTP NTT, Noldy R.E Kotta, SP., M.Sc. dibantu oleh  Liventinus Amur, STP., dan Pius Vitalis Musakar, SP., dari Dinas Pertanian Manggarai Barat melakukan karakterisasi Porang di Desa Tiwu Riwung, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.  Hasil identifikasi dan karakterisasi porang akan didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman.

Kepala Desa Tiwu Riwung, Martinus Tanis mengatakan bahwa “awalnya porang hanya tanaman liar, namun pada tahun 1983 porang dijual dengan sistem barter yakni ditukar dengan pisau”. “Tahun 2010 porang telah diperjual belikan dengan harga Rp. 300/umbi dan sejak tahun 2018 hingga kini  sudah menjadi komoditas yang dibudidayakan” lanjutnya.