Tim Monev Kegiatan Pengkajian Dan Diseminasi BPTP NTT Tahun 2021 Di Kabupaten TTS Dan Ttu Tuntaskan Kewajiban

Hits: 109

Kegiatan monev dimaksud telah dilaksanakan sejak tanggal 13-15 Oktober 2021. Dari beberapa kabupaten, ada dua kabupaten tempat pelaksanaan kegiatan yaitu Kabupaten TTS dan TTU. Untuk kabupaten TTS terdapat 3 kegiatanyakni: i) Demonstrasi Usahatani Demfarm Pengembangan Padi Khusus dan VUB Spesifik Lokasi dengan Penanggungjawab kegiatan adalah Ir. Adriana Bire, M.Sc (Penyuluh Ahli Madya BPTP NTT),  ii) Pengembangan benih/bibit unggul dan teknologi Balitbangtan di NTT dengan Penanggungjawab kegiatan adalah Ir. Evert Y. Hosang, M.Si., Ph.D (Peneliti Madya BPTP NTT), iii) Perbenihan dan Pengembangan Tanaman Bawang Putih di NTT dengan Penangggungjawab kegiatan adalah Helen da Silva, SP., M.Si (Peneliti Madya BPTP NTT). Sedangkan untuk kabupaten TTU adalah :i) Hilirisasi Inovasi Budidaya Sapi dan Ayam KUB, dengan Penanggungjawab kegiatan adalah Dr. Ir. Sophia Ratnawati, M.Si (Peneliti Madya BPTP NTT), ii) Dukungan Inovasi Pertanian di Wilayah Perbatasan (DIP-WP) Mendukung Lumbung Pangan Berorientasi Export di wilayah Perbatasan, dengan Penanggungjawab kegiatan adalah Dr. Bernard deRosari.

Adapun timmonev di dua kabupaten tersebut adalah Prof. Dr. Jacob Nulikdan Ir. Onike T. Lailogo, M.Si., Ph.D.  

Dari hasil diskusi di tempat pelaksanaan kegiatan, secara umum dapat terungkap bahwa kegiatan pengkajian ataupun diseminasi yang melibatkan kelompok-kelompok tani kooperator memberikan nilai positif bagi petani peternak yang ada. Petani merasakan bahwa sekalipun mereka telah memiliki pengalaman yang banyak tentang usahatani yang dijalankan seperti contoh budidaya padi sawah, peternakan ataupun aneka sayur dan bawang putih namun petani merasakan bahwa banyak hal baru yang mereka dapatkan seperti halnya penggunaan varietas unggul baru, cara tanam, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit.

Merasa sangat senang dengan pengenalan VUB padi yang diintroduksikan dalam kelompok mereka. Menerut petani, walaupun ini dilakukan di MT 2, dengan kondisi keterbatasan air, namun penampilan tanaman dan hasil yang diperoleh sangat mengembirakan, yang menurut mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan jika menggunakan varietas lokal, apalagi pada MT2 tersebut.

Kelompok yang terlibat pada kegatan Ibu Helena da Silva, dan Dr. Evert Hosang (3 kelompok) semuanya melalukan penanaman bawang putih untuk perbenihan. Karena tibanya benih bawang sudah terlambat maka penanaman dilakukan secara terpisah-pisah pada lokasi-lokasi dengan ketersediaan air yang memungkinkan, dengan penanaman yang dilakukan pada bulan Juli. Walau terlambat namun petani cukup senang dengan pengenalan teknologi pemupukan dan pengendalian hama-penyakit, dan yakin akan mendapatkan cukup hasil benih bagi penanaman berikutnya dari penampilan tanaman yang ada. Umumnya petani menanam bawang putih pada bulan Maret s/d Juni, tanpa pemupukan.

Petani kooperator juga tidak hanya dari kalangan petani dewasa, namun juga dari kalangan pemuda tani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani milenial. Kelompok mileneal ini terdapat di TTU dan terlibat pada kegiatan perbatasan dengan komoditas Tanaman Pakan Ternak dan aneka sayur.

Kegiatan pengembangan pakan terdiri dari jenis pakan legum pohon Lamtoro Tarramba, legum herba Clitoria ternatea serta Rumput  Gajah Mini atau rumput Odot yang diperkenalkan merupakan jenis tanaman pakan baru bagi petani peternak kooperator. Oleh karena itu, petani merasakan bahwa mereka sangat terbantukan dengan adanya pengenalan jenis-jenis pakan yang baru dan model penanaman dengan konfigurasi tanaman 2,3,2 (re, mi, re: 2 baris lamtoro Tarramba, 3 baris rumput Odot di antara  lamtoro, dan 2 baris Clitoria ternatea di antara rumput Odot) sehingga nanti dapat menjadi salah satu alternative pemecahan masalah kekurangan pakan di tempat mereka. Lahan pakan ini juga disiapkan sebagai lokasi sumber benih/bibit pakan untuk pengembangan lebih lanjut di tiap lahan individu masing-masing petani.

Dari penampilan pertumbuhan tanaman yang ada, dapat dilihat semangat petani peternak kooperator dalam menjalankan usahatani sesuai yang dianjurkan, walaupun menghadapi beberapa masalah seperti kekurangan air pada tanaman padi MT2, dan telah lewat waktu tanam untuk bawang putih. Sekalipun demikian, banyak pula masukan-masukan dari tim monev kepada petani peternak agar benar-benar kegiatan berjalan seoptimal mungkin. Sepertihalnya bagi petani di desa Kiuola, disamping menjalankan kegiatan pengembangan tanaman pakan lamtoro Tarramba dan rumput odot untuk menunjang kegiatan usaha ternak sapi, namun disarankan perlu dilakukan pembuatan lubang tanam permanen untuk mencoba menanam jagung dan komoditas lain dalam lubang tanam permanen tersebut mengingat bahwa kondisi lahan yang tidak memungkinkan karena termasuk kurang subur, dilihat dari penampilan pertumbuhan tanaman Lamtoro Tarramba yang ada. Dari hasil diskusi terlihat bahwa petani antusias untuk menggerakkan anggota kelompok untuk melakukan hal tersebut. SALAM INOVASI (ONIKE LAILOGO-JACOB NULIK)