Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dalam programnya mengembangkan varietas unggul baru padi khusus dan varietas unggul baru padi spesifik lokasi.

Hits: 99

Jenis varietas yang dikembangkan yakni Inpari Nutrizing, Inpari24, Inpari42, Inpari43, dan sitobigendit.

Sejak penanaman perdana di lahan milik Kelompok Tani Okan di Oebobo, Kecamatan Batu Putih, TTS Juli 2021 lalu, saat ini jenis varietas yang telah dipanen perdana yakni varietas padi Inpari42 dengan hasil ubinan mencapai 6,63 ton per hektar.

Penanggung jawab Program dari BPTP NTT, Ir. Adriana Bire, M.Sc menyampaikan ini ketika ditemui di sela-sela kegiatan panen perdana di Kecamatan Batu Putih, TTS, Rabu (13/10/2021).

Dikatakan Adriana Bire, pada kegiatan demonstrasi saat ini pihaknya bersama kelompok tani Okan melakukan panen perdana padi Inpari42 seluas 1 hektar.

Pihaknya baru pertama panen di kegiatan demonstasi ini karena memang varietas ini ditanam pertama. Kebetulan lahannya sudah diolah lebih dahulu sehingga padi varietas ini yang dipanen.

Menurut Adriana, dari hasil ubinan melalui pengukuran rata-rata adalah 6,63 ton per hektar. Ini luar biasa dalam cekaman iklim kekeringan dimana pada saat kurang air dia mampu survive.

Memang dalam deskripsinya, lanjut Adriana, bisa sampai 8-11 ton per hektar. Pengalaman saat melakukan demfam di Lembor, Kabupaten Manggarai dengan varietas yang sama Inpari42 dalam cekaman iklim hama penyakit tapi dia mampu sampai 10 ton per hektar.

” Di Batu Putih dalam iklim kering sangat luar biasa sampai 6,63 ton daripada mereka tanam padi lokal panen 2,3 – 4 ton per hektar,” jelasnya.

Untuk varietas Inpari42 yang dipanen ini, beber Adriana, memiliki keunggulan karena mampu survive pada cekaman iklim seperti ini. Suasana panas dan kering tapi mampu survive.

“Pada kegiatan inipun kita juga tanam Inpari43 yang masuk dalam padi spesifik lokasi. Ini padi bandel sama dengan Inpari42 mampu beradaptasi dengan cekaman iklim seperti ini tapi mampu bertumbuh dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, ditanam juga varietas padi jenis Situbogendit yang spesial tanam di ladang tapi saat ini ditanam sawah hasilnya diatas 5 ton per hektar.

“Kegiatan defam ini kami peruntukan buat benih sehingga bisa ditanam lagi pada musim tanam berikut juga untuk dikonsumsi jika tidak lolos dilab,” katanya.

Kegiatan demonstrasi pengembangan varietas unggul baru padi khusus dan varietas unggul baru padi spesifik lokasi diperkenalkan di Oebobo, Kecamatan Batu Putih, TTS ada beberapa alasan.

Varietas unggul baru khusus ini diperkenalkan karena TTS merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai angka Stunting tertinggi. Oleh karena itu varietas unggul padi IR Nutrizing diperkenalkan di daerah ini.

Alasannya, Pertama untuk mendukung program pemerintah TTS ini untuk menzerokan stunting. Kedua Selain Inpari Nutrizing juga diperkenalkan Inpari24 yang adalah beras merah ditujukan pada balita sehingga membutuhkan vitamin B yang terkandung di dalam beras merah. Kemudian beras merah ini juga buat warga yang mengalami penyakit gula darah.

Diperkenalkan juga di kelompok ini varietas unggul baru padi spesifik lokasi jenis Inpari42, Inpari43, dan sitobigendit.

Kenapa Inpari42 dan 43 diperkenalkan, kata Adriana, karena menurut hasil penelitian dia sangat survive ketika berada di situasi yang perubahan iklimnya tidak bagus sekalipun dia mampu bertahan dan memproduksi hasil.

“Kita lihat seperti panen Inpari42 walaupun berada dalam cekaman kekeringan tapi mampu memberi hasil rata-rata hasil ubinan produksi yang diambil gabah kering panen 6,63 ton per hektar. Ini menunjukkan bahwa varietas baru Inpari42 spesifik lokasi ini mampu bertahan,” kata Adriana.

Kemudian untuk Situbugendit juga bisa hidup di dua iklim di sawah maupun ladang. Saat ini belum lihat hasil karena berada dalam masa pertumbuhan.

Adriana berharap karena kelompok ini dipilih sebagai kelompok pioner yang diberikan tugas mengembangkan kegiatan demonstrasi padi varietas unggul baru spesifik lokasi dan varietas unggul baru khusus, maka kelompok Okan dan 4 kelompok lain bisa mengembangkan lebih banyak kedepannya.

Pasalnya, ini kelompok kelas tinggi sehingga bisa dibagikan ke anggota kelompok lain. Selain jadi benih untuk dijual juga diharapkan bisa dibagikan ke anggota lain yang belum kebagian.

“Juga jajar legowo juga disemaikan pada musim hujan. Tetap kami ikuti dan tidak berhenti disini. Strategi kami agar kelompok ini semangat antusias dalam menerapkan jajar legowo21 kami akan laksanakan lomba sesuai SOP yang diberikan dan digariskan dan pemenang dlihat yang paling bagus,” pungkas Adriana.

Marthen Maru Koordinator Penyuluh dan juga sebagai Kepala BPP Kecamatan Batu Putih Kabupaten TTS menyampaikan rasa syukur dan berterima kasih pada BPTP NTT yang memberikan program ini.

Dimana mereka diperkenalkan dengan adanya penanaman lima varietas unggul baru padi sawah, petani di Batu Putih khususnya di Oebobo menerima teknologi ini sekaligus telah menerapkan sehingga saat ini bisa dipanen varietas Inpari42 dengan hasil 6,63 ton per hektar.

“Kami tetap menuntun dan membimbing petani untuk menerapkan teknologi yang telah diberikan,” kata Marten.

Ditanya soal kendala yang dialami, Marten mengatakan selama ini ada hama keong mas tetapi cepat diatasi dengan berbagai upaya.

Kendala lain terlambat tanam sehingga sebagian kecil sekitar 10 persen dari luas program 12 hektar itu sekitar 2-3 hektar puso karena kekurangan air.

“Air yang diharapkan disini adalah air dari Bointuka dimana disana juga ada kegiatan tanam padi sehingga air yang diperoleh sisa dari Beontuka. Harapan kedepan program ini bukan saja di Oebobo tapi juga di Beontuka karena mereka juga ingin mencoba varietas baru seperti yang mereka dapatkan dari BPTP NTT,” pinta Marten.(ADRIANA BIRE/Halena Doga/ER).