Mortalitas Ayam KUB (Penyebab Dan Upaya Penanggulangannya) Di BPTP Baltibangtan NTT

Hits: 515

Latar Belakang

Melihat penampilan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) hampir tak dapat dibedakan dengan ayam kampung biasa. Namun, bila lebih dekat lagi melihat performanya maka akan dapat diketahui apa pembeda antara ayam KUB dengan ayam kampung biasa lainnya. Ayam KUB merupakan rumpun baru ayam lokal hasil inovasi hasil penelitian Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor dan mulai dikembangkan di BPTP Balitbangtan NTT sejak tahun 2015 yang diawali dengan pemeliharaan sejumlah 100 ekor.

Dari cikal bakal tersebut, penyebaran ternak ayam KUB tersebut telah dilakukan di berbagai tempat di provinsi NTT seperti di Kabupaten Malaka, Kupang, Kota Kupang, TTU, TTS, Sumba Timur, Sabu, Rote pada berbagai kelompok tani yang ada yang diawali dengan pembekalan melalui penyuluhan ataupun bimbingan teknis (bimtek).

Keunggulan ternak ayam KUB tersebut antara lain adalah kemampuan untuk bertelur setahun bisa mencapai rata-rata 160 – 180 butir/ekor/tahun, memiliki bobot badan umur 20 minggu (± 5 bln) berkisar 1,2 kr – 1,6 kg dengan umur bertelur awal sekitar umur 20 – 22 minggu (5 – 5,5, bulan). Pada umur 3 bulan sudah dapat dijual dengan harga 70-75 ribu per ekor.

Sekalipun memiliki keunggulan tersebut, namun dalam kenyataannya bahwa suatu budidaya ternak termasuk budidaya ternak ayam KUB keberhasilan sangat bergantung pada berbagai faktor. Selain faktor pakan, kandang dan pemeliharaan kesehatan, tingkat kematian atau mortalitas ternak juga mempengaruhi keberhasilan usaha budidaya tersebut.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa tingkat mortalitas ternak ayam KUB 0,50-1,50 % (Suryana, et all, 2014).  Bagaimana dengan pengalaman di BPTP NTT? Dr. Sophia Ratnawati sebagai Koordinator Tim Pengembangan Ternak Ayam KUB  di NTT mengungkapkan bahwa mortalitas yang terjadi rata-rata 5%.

Sekalipun tingkat mortalitasnya rendah, namun beberapa hal yang dapat menjadi pembelajaran yakni  faktor penyebab terjadinya mortalitas dan upaya penanganan yang perlu diupayakan untuk menekan terjadinya mortalitas tersebut. Oleh karena itu melalui tulisan sederhana ini penulis ingin sedikit berbagi tentang faktor-faktor penyebab dan upaya pengendalian mortalitas pada ayam KUB tersebut.

 

Beberapa Faktor Utama Penyebab Terjadinya Mortalitas Dan Upaya Penanggulangannya

Berdasarkan pengalaman dalam pemeliharaan ternak ayam KUB sejak tahun 2015 di BPTP Balitbangtan NTT, maka beberapa hal yang diamati sehubungan dengan mortalitas yang terjadi bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya mortalitas dan berikut upaya penanggulangannya seperti yang diutarakan oleh Dr. Sophia Ratnawati dan tim.

a. Suhu ruangan dan pencahayaan

DOC (Day Old Chicken) ayam KUB memiliki kemiripan dengan ayam kampung biasa yakni membutuhkan suhu yang cukup seperti yang didapatkan dari induknya. Oleh karena itu, dalam pemeliharaannya ketika masih dalam umur DOC tersebut diperlukan suhu yang cukup dengan pemberian lampu yang sebaiknya lampu listrik 100 watt atau disesuaikan dengan kebutuhanm, sehingga perlu pula disiapkan genset bila sewaktu-waktu tejadinya pemadaman listrik secara tiba-tiba.  

Indikator bahwa suhu dalam kandang tersebut sudah optimal yakni ayam menyebar secara merata di dalam kandang. Bila mereka menjauhi lampu artinya suhu perlu diturunkan, sedangkan bila mereka berkumpul mendekati lampu pertanda suhu ruang kurang dan perlu dinaikkan. Nah, penyebab kematian pada fase ini adalah ketika lampu listrik mengalami pemadaman dan belum sempat diambil langkah mengatasi persoalan tersebut, DOC tersebut saling mencari kehangatan dengan cara berhimpit-himpitan. Anak ayam yang berada pada posisi bagian bawah yang akan menjadi korban. Inilah salah satu faktor terjadinya mortalitas pada umur DOC. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan lampu semprong yang digantung di sekitar kandang namun perlu selalu diawasi untuk menghindari DOC tersebut justru terbakar.

Pengaturan suhu ruangan dalam kandang untuk ayam umur 1 – 7 hari, suhu ideal kandang 35°c; umur 8 – 15 hari, suhu ideal kandang 32,2°c; umur 16 – 23 hari, suhu idel kandang 29,44°c; umur 24 – 30 hari, suhu ideal kandang 26,6°c. Setelah ayam berumur 31 hari, pemanas buatan sudah tidak diperlukan lagi. Meskipun begitu, bila kondisi sekitar kandang sangat dingin maka pemanas buatan bisa dipasang kembali. Dengan adanya pengontrolan secara teratur maka akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan ayam yang dipelihara.

 

b. Kanibalisme

Salah satu kelemahan dari ayam KUB ini adalah sifat kanibalismenya yang tinggi. Kanibalisme pada ayam adalah kebiasaan ayam yang saling mematuk dan bahkan memakan bangsanya sendiri.  Kanibalisme biasanya ditandai dengan adanya luka – luka pada tubuh ayam dan seringkali ditemukan sudah mati dengan lubang dibagian kloaka sampai pada termakan habisnya rongga perut dari ayam.

Kanibalisme atau saling patuk – mematuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal yakni : kandang yang terlalu padat, tempat makan dan tempat minum yang terlalu kecil atau sempit, suhu dan kelembaban kandang yang terlalu tinggi, usia ayam yang tidak seimbang, kekurangan makanan dan minuman. Kanibalisme biasanya terjadi pada ayam dengan umur lebih dari 6 minggu, dimana pada usia tersebut belum semua bagian tubuh ayam tertutup oleh bulu, sehingga memudahkan ayam – ayam untuk saling melukai.

Apabila sudah ada luka maka semua ayam yang ada dalam populasi tersebut akan mematuk bagian tubuh yang terluka. Ayam tidak akan bisa bertahan sebab tidak bisa menghindar jauh karena berada dalam satu kandang yang akhirnya ayam akan mati akibat kehabisan darah dan ayam yang lain akan memakan semua isi rongga perut dari ayam yang sudah mati tersebut.

Untuk mengurangi atau menekan tingkat kematian dari suatu populasi khususnya ayam KUB ini maka cara yang dilakukan adalah dengan memberikan cincangan batang pisang, daun pepaya ataupun daun kelor yang digantung didalam kandang agar ayam fokus terhadap pakan alternatif tersebut.

Selain itu, dilakukan juga pemotongan paruh dengan menggunakan pemotong kuku ukuran kecil sampai dengan ukuran  besar, disesuaikan dengan besarnya paruh dari ayam - ayam tersebut. Pemotongan paruh perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan darah pada bagian paruhnya.

Pengobatan terhadap ternak ayam yang menjadi korban kanibalisme dapat dilakukan melalui pemberian parutan kunyit dan minyak yang dibakar dan ditaburkan pada luka bekas luka, dan untuk pemulihan sebaiknya ternak ayam yang luka tersebut untuk sementara dipisahkan dalam kandang tersendiri.

Salam Inovasi (Onike Lailogo, Medo Kote, Sophia Ratnawati, Ati Rubiati)