JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

Yang Merambat Walau Tak Merambat (Bagian II)

Yang Merambat Walau Tak Merambat (Bagian II) 
Nilai Teknis dan Ekonomis Legume PohonTarramba 

Dalam artikel yang lain mengenai Tarramba, sedikit di kupas mengenai keberadaan Tarramba sejak di perkenalkan hingga perambatan adopsinya. Dalam artikel ini, akan sedikit diuraikan mengenai nilai teknis dan ekonomis dari tanaman Tarramba tersebut.

Nilai Teknis
Tarramba sudah dapat dimanfaatkan sebagai pakan pada umur 14 bulan. Taramba dapat menghasilkan bahan kering pakan sebanyak 11 ton/ha, dan akan makin meningkat produksinya sesuai lokasi, kesuburan tanah, dan curah hujan dimana satu pohon Tarramba mampu menghasilkan 6 - 10 kg bahan pakan segar per pemangkasan. Pemangkasan dapat dilakukan dengan interval 2-3 bulan selama musim hujan (Januari-April) dan 3-4 bulan sekali selama kemarau (Mei-Desember).

Satu ha lahan dapat ditanami mulai dari 1000 pohon hingga 5000 pohon Tarramba dengan jarak tanam 1 m x 2 m, tergantung pada cara pemanfaatan lahan petani.

Sebagai pakan ternak Tarramba mempunyai kualitas yang sangat baik, yaitu kandungan asam-asam amino yang seimbang dan setara dengan hijauan Alfalfa (Medicago sativa), sehingga sering disebut The Tropical Alfalfa, karena Alfalfa lebih dikenal pengembangannya di daerah Sub-Tropis.Selain itu, Tarramba mempunyai kandungan protein kasar mencapai lebih dari 26%.

Nulik dan Kana Hau (2015), menyatakan bahwa pemberian Tarramba dalam bentuk segar pada ternak sapi Bali jantan secara ad libitum mampu memberikan pertambahan bobot badan (PBB) rata-rata 0,5 kg/ekor/hari. Jika diberikan tambahan pakan sumber energi atau karbohidrat mudah terpakai, seperti dedak, jagung giling, atau ubi kayu sebanyak 0,5 - 1 % dari berat tubuh dapat diperoleh rata-rata PBB 0,8 kg/ekor/hari pada sapi Bali.

Pada ternak sapi Sumba Ongole, pemberian pakan lamtoro sebanyak 30-40% dari ransum mampu memberikan kenaikan berat badan selama musim kemarau (Juni s/d November) sementara ternak yang hanya digembalakan di padang rumput alam terus mengalami kehilangan berat badan.

Lamtoro Tarramba dapat ditanam secara monokultur atau integrase dengan jagung. Di NTT, selain sebagai pakan utama ternak sapi, Tarramba juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing, kerbau, dan dalam jumlah sedikit pada ternak babi.

Lebih jauh Nulik menyatakan bahwa silase Lamtoro Tarramba dapat memberikan respons pertumbuhan pada sapi Bali jantan sebesar 0,3-0,4 kg/ekor/hari.Pengolahan dalam bentuk silase yang dibuat ini hanya menggunakan cara sederhana, yaitu daun lamtoro dilayukan semalam hingga kadar BK menjadi 25-30% dan dimasukkan dan dipadatkan dalam wadah kedap udara tanpa tambahan bahan pengawet lainnya dan dapat dimanfaatkan selama kemarau hingga musim hujan berikutnya (Mei-Desember) tanpa penurunan kualitas yang berarti (Fernandez dkk., 2006)

Nulik dan Kana Hau (2004) menyatakan bahwa pengawetan dalam bentuk wafer atau cubes merupakan pilihan lain tergantung dari ketersediaan suplai lamtoro, ketrampilan peternak dalam mengolah dan peralatan. Wafer atau cubes lamtoro mempunyai kualitas protein kasar + 14% saja, lebih rendah jika diberikan dalam bentuk segar yaitu 26%. Pada penelitian pemberian pakan hanya mampu memberikan PBBH pada ternak sapi Bali sebesar 0,23 kg/ekor/hari.

Nilai Ekonomis
Legum pohon Tarramba memberikan tambahan pendapatan bagi petani dari penjualan benih (Rp. 50.000 s/d 75.000 per kg benih), dan dalam bentuk pendapatan tunai dengan menjual biomas sebagai pakan selama musim kemarau ketika tanaman lain tidak mampu memberikan hasil. Sebagai gambaran, untuk setiap kali panen, dari 150-200 tanaman yang dipanen bergilir dari populasi 1000 tanaman mampu memberikan uang tunai bersih Rp 350.000 yang dipanen sebayak 6 kali selama kemarau, dan hijauan dijual antara lain ke pasar ternak di Lili, Fatuleu, Kabupaten Kupang.

Pemanfaatan pakan lamtoro sebagai pakan utama di NTT mampu memberikan margin keuntungan yang 2 kali lebih besar dibandingkan dengan margin keuntungan petani di tempat lain yang hanya menggunakan pakan olahan (konsentrat dan pakan lengkap). Teknologi sederhana ini sangat mudah diadopsi oleh petani kecil di NTT yang sangat rendah kemampuan permodalannnya.(Onike-tl dan debora-kh)
Melanjutkan tulisan seri berikutnya...