Yang Merambat Walau Tak Merambat

Berita

Yang Merambat Walau Tak Merambat 

Lamtoro Tarramba dan Pengembangannya

Dalam artikel ini, kami menggunakan kata ‘merambat’ untuk menggambarkan tentang betapa tanaman legume pohon ‘tarramba’ yang penyebarannya merambat sangat pesat dalam pengembangannya di seluruh kabuaten kota di NTT dan juga di luar NTT bahkan sampai ke negara Republic Democratic of Timor Leste (RDTL).


Jenis legume introduksi ini adalah jenis legume pohon dengan nama Leucaena leucocephala cv Tarramba namun lebih dikenal dengan sebutan Tarramba dan menjadi sangat populer di kalangan petani di propinsi NTT.‘Merambatnya’ penyebaran tanaman tersebut karena terjadinya proses adopsi yang cukup cepat di antara kalangan petani yang akhirnya juga menjadi perhatian pengambil kebijakan baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten dan kota di NTT. 

Dan yang lebih menarik adalah diseminasi yang berjalan secara sederhana dari pihak peneliti yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni yg didominasi oleh proses mendengar dan melihat keberhasilan yang dicapai oleh sesama petani yang sebelumnya terlibat secara langsung dalam kegiatan penelitian adaptasi tanaman tersebut di pulau Timor.

Bermula dari kegiatan bersama ACIAR dalam pilot project pengenalan dan pengkajian adaptasinya di kabupaten Kupang pada tahun 2010, maka tanaman lamtoro Tarramba mulai dikenal oleh para petani di NTT. Hal ini karena selain tanaman tersebut menghasilkan biomasa ini pula dapat menghasilkan benih Tarramba baru dengan harga jual Rp. 50.000-Rp. 75.000 per kilogramnya.

Berawal dari petani di desa Ponaen. Bapak Kula dimana pak Kula sudah dapat menikmati hasilnya bukan hanya dari biomasa yang dihasilkan untuk ternak sapi peliharaannya, tapi juga mendapatkan uang tunai dari penjualan benih baru biji tarramba tersebut. Dengan adanya keberhasilan ini, maka banyak petani yang tertarik untuk mengadopsi jenis Tarramba tersebut untuk mendukung usaha peternakan mereka. 

Hingga saat ini, keberhasilan tersebut tidak saja dialami oleh bapak Kula tapi sudah ‘merambat’ ke desa dan kecamatan lainnya. Atas keberhasilan ini, proses diseminasi terus dilakukan ke desa dan kecamatan lainnya di kabupaten Kupang. Yang akhirnya pun merambat ke desa Camplong 2 Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang. Dan ternyata Tarramba diminati oleh petani disana. Sebagai contoh tentang penyebaran tanaman ini, seperti yang dialami oleh kelompok tani Talekominit dan kelompok Sabu Bani di desa Camplong II, Kelompok tani tersebut beranggotakan 40 orang dan 30 orang. 

Pada awalnya, petani-petani tersebut melihat kemajuan yang dialami oleh kelompok tani yang sebelumnya (Kelompok Tani Setetes Madu dan Tunas Muda) yang juga ada di desa yang sama karena keberhasilan mereka dalam hal penamanan lamtoro tersebut. Dalam benak mereka, selain untuk mendapatkan daunya untuk pakannya, mereka juga akan mendapatkan tambahan penghasilan bila telah melakukan panen benih atau biji lamtoro tersebut. 

Sekarang biji lamtoro Tarramba telah terdistribusi ke bebereapa daerah misalnya Bali, NTB,Jogjakarta,Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan bahkan sampai ke Negara Timor Leste. Sedangkan untuk NTT sendiri sudah merambat sampai keseluruh kabupaten dan kota. Berdasarkan data distribusi benih yang paling tinggi adalah kabupaten Sumba Timur (Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan di NTT yaitu gabungan dari 12 NGO) sebanyak hamper 1 (satu) ton dan Dinas Perternakan kabupaten TTS sebanyak 1 (satu) ton. 

Dan yang pasti masih ada pemasok-pemasok lainnya yang berperan sebagai sumber benih baru Tarramba. Untuk tujuan produksi benih, maka dalam proses sosialisasi dan diseminasi, peneliti sangat menekankan pennuan lokasi agar saat penananam, harus dijauhkan dari lamtoro lokal yang ada di lahan petani bahkan memusnahkan dahulu lamtoro-lamtoro local yang ada. Hal ini sangat diperlukan agar benih yang dhasilkan tidak tercampur dengan lamtoro local tersebut sehingga pihak lain atau petani lain yang berminat mengusahakan tanaman tersebut tidak merasa dirugikan. Langkah tersebut diambil karena lamtoro local sangat rentan terhadap serangan kutu loncat. Salam Inovasi (onike-l dan debora-kh)

Melanjutkan tulisan seri berikutnya.........

English Version

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday100
mod_vvisit_counterYesterday193
mod_vvisit_counterThis week552
mod_vvisit_counterLast week830
mod_vvisit_counterThis month3571
mod_vvisit_counterLast month5174
mod_vvisit_counterAll days353772

Online (20 minutes ago): 4
Your IP: 54.162.105.6
,
Today: Apr 25, 2018