Dampak Penyebaran Informasi Pertanian Melalui Pelatihan Petani Dengan Pendekatan Mobile Training

Berita

Oleh  :

Ir. Onike T. Lailogo, M.Si  (Penyuluh BPTP NTT)

 

PENDAHULUAN

Adopsi dan difusi inovasi teknologi pertanian pada komunitas petani miskin terkendala oleh banyak faktor penghambat, baik eksternal maupun internal. Namun demikian peluang terjadinya adopsi dan difusi tetap terbuka luas tergantung pada metoda dan media yang digunakan. Mobile Training, sebagai salah satu metoda diseminasi, telah dilaksanakan dari tanggal 1 Juni s/d 4 Juli 2009 pada 5 desa di kabupaten Ende (Bokasape Timur, Wolamasi, Nakuramba, Fataatu dan Aewora) dengan materi paket teknologi pertanian dan peternakan yang dihasilkan Badan Litbang selama proyek P4MI. Pasca pelatihan, pada 5 desa tersebut, dilakukan evaluasi dengan tujuan: (1) melihat sejauhmana perubahan sikap atau respons lanjutan petani peserta, petani non peserta, pengurus kelompok dan aparat desa, (2) menilai konsistensi penerapan anjuran pada masing-masing paket teknologi yang dilatihkan, dan (3) menilai prospek keberlanjutan dalam bentuk rencana pengembangan pasca proyek.

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pendekatan  Mobile Training tersebut, maka telah dilakukan studi dampak yang dalam tulisan ini khusus mengetengahkan dampak daripada salah satu dari lima kegiatan pelatihan dimaksud yaitu Pelatihan Teknis Pertanian dan Peteranakan.

DAMPAK PELATIHAN DENGAN PENDEKATAN MOBILE TRAINING

Dalam tulisan ini khusus membahas mengenai Dampak Pendekatan Mobile Training pada Pelatihan Teknis Pertanian dan Peternakan yang dilaksanakan langsung di lima desa tempat pelaksanaan pelatihan.

Dari hasil studi yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa dampak pelatihan sangat berbeda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya  bahwa pelatihan dengan pendekatan Mobile Training memberikan dampak yang cukup berarti bagi masyarakat desa walaupun sangat bervariasi antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Jumlah adopter terbanyak adalah di Kelurahan Bokasape dan yang paling sedikit adalah di desa Fataatu dan Desa Aewora, dimana untuk Kelurahan Bokasape adopsi terjadi hampir pada semua komoditi yang teknologinya disampaikan pada pelatihan dan yang menerapkan selain peserta juga petani non peserta bahkan yang non anggota Gapoktan dan petani dari desa tetangga (desa Nakambara, sebelah selatan Kelurahan Bokasape). Sedangkan di desa Fataatu adopsi masih terbatas pada teknologi budidaya padi sawah dengan sistem jajar tanam legowo dan di Aewora pada Sistem Tanam Benih Langsung (TBR) Kacang Hijau.

Diadopsinya teknlogi yang diberikan saat pelatihan sangat tercermin dari sikap petani yang ingin memelihara ternak ayam, kambing maupun babi dengan adanya kandang-kandang yang dibuat oleh petani.  Petani peserta yang memiliki lahan sawah sudah menanam padi sawah mereka dalam musim tanam ini dengan menggunakan sistem jajar tanam legowo seperti yang diterima saat pelatihan, hingga pada aplikasi pemupukan.

Dari hasil wawancara di kelurahan Bokasape dan Desa Fataatu dapat diketahui bahwa sebelum mengikuti pelatihan, salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh petani sawah adalah hama keong emas. Namun, setelah diberi inovasi teknologi lewat pelatihan, petani sudah dapat mengatasi masalah tersebut karena legowo yang dibuat selain untuk memberikan kebebasan pada petani untuk memupupuk dan menyiang, juga keong emas yang ribuan jumlahnya bermuara pada legowo tersebut sehingga tidak lagi mengganggu tanaman padi. Sedangkan di desa Nakuramba, dengan adanya Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), maka teknologi yang diterima saat pelatihan sangat mendukung petani ketika melakukan penyusunan RUA, RUK dan RUB karena sebagian besar dari anggota Gapoktan di desa ini menggunakan dana PUAP tersebut untuk usahatani Ternak Babi, Ayam Buras dan Kambing.

Adopsi teknologi pelatihan juga tidak hanya oleh petani peserta tapi juga oleh petani angota Gapoktan Non Peserta, petani non peserta non anggota Gapoktan bahkan petani dari  luar Desa (kasus di desa Bokasape) dimana dari desa sebelah selatan Bokasape yaitu desa Nakambara membuat kandang kambing (4 buah) dan penerapan sistem jajar tanam legowo pada area penanaman petani sejumlah 4 orang dengan luasan lahan sekitar 0,75 ha. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyebaran informasi oleh peserta pelatihan terjadi dengan baik sehingga apa yang menjadi tujuan daripada Mobile Training yaitu percepatan informasi teknologi dapat tercapai walaupun dengan angka yang sangat bervariasi antara desa yang satu dengan desa yang lain.

Di Kelurahan Bokasape, Desa Wolomasi dan Desa Nakuramba, adopsi teknologi ini pun tidak terlepas dari peran pemuka masyarakat dalam hal ini Kepala Desa dan Lurah dan PPL setempat yang menurut petani sangat berperan dalam memberikan motivasi karena motivasi tersebut ditunjukkan dengan adanya pembuatan kandang ayam dan kandang kambing di pekarangan rumah. Hal ini menunjukkan adanya kepedulian Lurah, Kepala Desa dan PPL terhadap keberlanjutan inovasi teknologi yang disampaikan melalui kegiatan Mobile Training yang sudah dilakukan langsung di tempat mereka berada dan melaksanakan usahataninya. Hal ini karena memang peran seorang pemuka masyarakat sangat besar pengaruhnya dalam pengambilan keputusan inovasi teknologi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Mobile training dapat menjadi salah satu metoda diseminasi inovasi tenologi yang lebih efektif karena mengandung hal-hal berikut:

1. Berlatih sambil praktek sehingga meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan

2. Setelah berlatih dilanjutkan dengan percontohan sehingga bisa menilai secara langsung hasilnya dan dapat merubah sikap serta perilaku

3. Pendampingan lanjutan dan evaluasi pasca berlatih sehingga terjadi proses komunikasi dan umpan-balik jika terjadi kendala/masalah.

Namun demikian, dampak positif mobile training akan berlanjut jika diikuti dengan program lain yang bersifat komplementer terutama pada penyediaan sarana/prasarana penunjang yang diperlukan. Peran PPL, BPP, Kepala Desa dan Camat sangat penting menjembatani pemenuhan kebutuhan petani dengan berbagai stakeholders tingkat kabupaten. Dari sisi metodologi, topik atau jenis teknologi yang diajarkan perlu lebih fokus pada potensi riil setiap desa, usahatani dominan dan kebutuhan petani.

 

 

 

 

English Version

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday29
mod_vvisit_counterYesterday111
mod_vvisit_counterThis week657
mod_vvisit_counterLast week1155
mod_vvisit_counterThis month3655
mod_vvisit_counterLast month4572
mod_vvisit_counterAll days205886

Online (20 minutes ago): 1
Your IP: 54.237.197.160
,
Today: Okt 23, 2014