JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

Hutan cemara yang di pangkas siap dibakar untuk persiapan menyambut musin tanam pada lahan berlereng.
Hutan cemara yang di pangkas siap dibakar untuk persiapan menyambut musin tanam pada lahan berlereng.

Udara sejuk pegunungan dan bunyi daun cemara yang diterpa angin seakan menyambut setiap orang yang memasuki salah satu bagian dari wilayah desa Tasinifu, Kecamatan Mutis - TTU.  Dari atas bukit yang terjal ini terbentang pemandangan alam kawasan Mutis yang sangat menakjubkan. Dari atas bukit ini juga sudah terlihat jelas wilayah seberang enclave Oecusse, negara tetangga RDTL.

Dari bagian Barat ujung desa Tasinifu sampai ke ujung Timur yang berbatasan dengan wilayah Oecusse berjarak sekitar 15 km namun membutuhkan waktu tempuh hampir satu jam karena jalan yang rusak.  Untuk bisa masuk kawasan persawahan Seko yang terletak di ujung Timur desa Tasinifu harus melewati Pos Tentara Perbatasan Aplal.   Sisi Barat. Wilayah desa berada pada ketinggian sekitar 1300 m dpl, sedangkan sisi Timur yang merupakan lokasi persawahan hanya berada pada ketinggian sekitar 300 m dpl. 

Ada rasa bangga bercampur prihatin ketika kami tim BPTP-NTT berdiri di tapal batas wilayah antar negara.  Bangga karena ditengah musim kemarau, petani desa tersebut bisa menikmati panen padi sementara di seberang sungai negara tetangga nampak suasana gersang tanpa tanaman.  Prihatin karena infrastruktur jalan dan listrik di negara tetangga seberang sungai terlihat sudah jauh lebih baik. 

Lahan Kacang Tanah
Lahan Kacang Tanah

Petani yang kami temui di lokasi sawah Seko bahkan dengan “nada protes” bertanya: ”kami bekerja lebih keras menjadikan wilayah tapal batas lebih produktif tetapi mengapa infrastruktur jalan ke lokasi kami kurang diperhatikan? …….  Kami juga adalah bagian dari beranda depan NKRI.”

Agro-ecosystem di wilayah desa tersebut sangat beragam. Menurut petani di desa tersebut bahwa mengembangkan pola usahatani yang beragam dan spesifik pada setiap zona Agro-ecosystem. Salah seorang petani ko-operator Lasarus Fuamuni, disamping mempunyai persil sawah di Seko, ia juga mengusahakan lahan kering di wilayah pegunungan/lahan miring.  Bantuan benih padi ladang yang didapatkan dari BPTP-NTT ditanam secara tumpang sari dengan kacang tanah.

Inpago
Inpago

Dari lahan sekitar delapan are yang diusahakan pada Musim Hujan (MH) lalu, Lasarus bisa panen sekitar 200 kg padi ladang (gabah) dan kacang tanah 300 kg.  Musim Kemarau (MK) saat ini dari lahan sawah sekitar delapan are, keluarga Lasarus bisa panen 600 kg gabah.  Bagi keluarga Lasarus dan petani kecil pada umumnya “sedikit tapi pasti” jauh lebih penting dari pada produksi tinggi tapi tidak berkelanjutan. (Yong, Chris, Helena)