JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

Kupang, (24/9). Rupanya popularitas Lamtoro Taramba atau sering disebut Taramba saja telah merambah ke mana-mana. Hari ini (Senin, 24/9) BPTP didatangi tamu istimewa Bupati Sabu Raijua, Drs. Nikodemus Rihi Heke bersama rombongan dalam rangka mendiskusikan mengenai Taramba.

Dalam pertemuan santai ini diterima plh. Ka Bptp ntt Drs. Djemy Banoet beserta para peneliti, diantaranya Dr. Tony Basuki, Dr. Jacob Nulik, Dr. Evert Hosang, Dr. Sophia Ratnawati, Ir. Debora Kanahau, M.Si dan Dr. Ben de Rosari

Disampaikan Rihi Heke bahwa, sebetulnya sudah lama telah merencanakan untuk sampai ke BPTP NTT, namun hari ini baru kesampaian. Sebelum ke sini, kata Rihi Heke, "sebetulnya saya sudah pernah mendapat benih taramba dari bptp dalam jumlah yang terbatas. Akan tetapi, kesempatan ini juga ingin langsung ke bptp untuk melihat lebih dekat mengenai komoditas ini, karena masih penasaran".

Setelah berdiskusi bersama para peneliti, Bupati Sarai juga menyempatkan melihat aktivitas teknis  di kebun BPTP NTT.

Objek yang disempatkan melihat adalah, proses pemanenan benih jagung Provit-A, peternakan yam KUB (Kampung Unggul Badanlitbang), UPBS benih jagung, padi dan kacang hijau, percobaan pakan rumput gajah, hamparan produksi benih jagung komposit serta perbenihan jeruk keprok SoE.

Penasaran dengan pertanaman Tatambah, selanjutnya rombongan bupati mengunjungi hamparan 300 ha tarambah binaan BPTP NTT di desa Camplong 2 yang berjarak 15 km dari kantor BPTP NTT.

Dalam kunjungan ke lapangan, hanya dijumpai satu dari lima kelompok tani yang ada di sekitarnya yaitu Kelompok tani Setetes Madu.

Setelah mendapat penjelasan dari ketua kelompok tani, Dermin mengenai sejarah dan pengembangan Tarambah di wilayah kering kerontang, maka disimpulkan oleh Rihi Heke bahwa perubahan luar biasa ini, dipastikan karena kelompok tani telah dimodali semangat juang luar biasa yang telah ada dalam anggotanya.

Bupati juga terkagum dengan infornasi tambahan dari kelompok bahwa tidak saja mereka memanen hijauan dan mengembangkan ternak, tetapi juga telah mendapat uang ratusan juta hasil penjualan benih, yang sampai saat ini telah terjual 2800 kg dengan harga 50 ribu/kg.

Heke menyampaikan bahwa Sabu Raijua ke depan wajub untuk dikembangkan komoditas ini dan mohon BPTP NTT ikut mengawal pengembangannya.

Untuk diketahui bahwa, Tarambah adalah jenis tanaman Lamtoro yang berasal dari Australia yang memiliki daya adaptasi yang tinggi dengan wilayah kering NTT. Keunggulannya adalah mampu memproduksi hijauan pada musim kering serta tahan hama Kutu Loncat.

Untuk diketahui juga bahwa, BPTP NTT yang memulai mengintrodusir komoditas ini dan telah berkembang luas tidak saja di NTT tetapi di daerah Indonesia lainnya. Ini terbukti dari hasil penjualan benihnya telah mencapai 4.8 ton, kata Kanahau saat menjelaskan kepada Rihi Heke. (TB)