JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

Ansy Lema Berdiskusi dengan Peneliti BPTP NTT: Terkait Pembangunan Pertanian

Rabu 8/1/2020, bertempat di Dinas Pertanian Provinsi NTT,  Tim BPTP NTT yang dipimpin oleh Kepala BPTP NTT, Dr. Procula R. Matitaputi, serta dihadiri KSPP Dr. Tony Basuki, Koordinator Program dan Evaluasi, Dr. Bernard deRosari, Ketua Kelompok Peneliti Sistem Usahatani, Dr. Evert Hosang, Peneliti Senior, Dr. Jacob Nulik bersama Dinas Pertanian Prov NTT berdiskusi dengan Yohanis Fransiskus Lema, SIP, MSi,  anggota DPR RI komisi IV terkait pembangunan pertanian di NTT.

Dalam diskusi tersebut tim BPTP NTT menyampaikan Dokumen Grand Design Pembangunan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering NTT. Presentasi disampaikan oleh Dr. Tony Basuki sebagai Ketua Tim Penulis Dokumen Grand Design tersebut.

Ansy Lema, sapaan akrab Yohanis Fransiskus Lema, mengapresiasi kerja akademik menyusun arah sebagai pedoman pembangunan pertanian di lahan kering NTT.

"Tinggal implementasi yang tepat, sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah"

"Saya di DPR sedang membuat branding untuk diri saya, dikenal sebagai orang lahan kering dan excavator. Lahan kering yang ada perlu dioptimalkan penggunaannya. Petani sendiri tidak mampu secara manual meningkatkan skala usaha secara manual. Pemerintah berkewajiban membantu petani menyiapkan lahan. Makanya mekanisasi terutama menggunakan excavator, membuka lahan dengan memperhatikan topografi, konservasi dan kesuburan karena lapisan topsoil harus dijaga" ujar Ansy.

Dr. Procula Matitaputi menyampaikan bahwa wilayah kita yang berkelimpahan panas matahari harus bisa dimanfaatkan misalnya untuk menggerakkan pompa air. Air yang berada dibawah dapat diangkat menggunakan teknologi pompa dengan energi dari panas matahari ke lahan pertanian yang letaknya di atas.

Terkait pola pertanaman di lahan kering, Dr Jacob Nulik menyampaikan succes story petani di Camplong II, Kabupaten Kupang dimana dengan menerapkan pola lubang permanen berkualitas dapat memanen jagung, aneka kacang dan tanaman lain pada lahan yang sangat kering dan berbatu. Pola ini diintegrasikan dengan tanaman pakan terutama lamtoro tarramba yang tahan kutu loncat, tahan panas, dan tahan pangkas dan memelihara ternak sapi sangat membantu petani untuk keluar dari kemiskinan.

"Sekarang sudah ada 250 ha tanaman lamtoro tarramba dan petani sudah memiliki sapi sendiri-sendiri, mereka juga sudah bisa menjual biji tarramba untuk petani lain di NTT bahkan di luar NTT" jelas Nulik.

Permasalahan lain yang diangkat dalam diskusi tersebut misalnya yang disampaikan Dr Bernard deRosari, yaitu masih banyak praktek ijon yang merugikan petani; petani menjual hasil masih dalam bentuk produk primer, sehingga nilai tambah atau agroindustri tidak didapat petani sehingga petani tetap miskin;  harga jagung yang tidak kompetitif dengan daerah lain, serta produktivitas yang masih rendah.

Akhir pertemuan Ansy Lema mendorong adanya Marketing Communication tentang Succes story yang sudah dibuat sehingga dapat ditiru petani lain dan menjadi bahan studi banding antar wilayah.

"Saya menyampaikan terima kasih atas pertemuan ini, karena saya banyak belajar dari ahli pertanian, yang juga adalah pelaku yang berinteraksi langsung dengan petani" imbuh Ansy mengakhiri diskusi. (BdR).