JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Selamat datang di Web Site BPTP NTT _______ Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Balitbangtan (BPTP) Nusa Tenggara Timur _______ Jln. Timor Raya Km. 32 Naibonat Kupang _______ Nusa Tenggara Timur _______ email : bptp-ntt@litbang.pertanian.go.id

Media Sosial

 

Pentingnya Legum Herba Clitoria Ternatea Dan Pemanfaatannya Sebagai Pakan Bagi Ternak

Petani kecil di Indonesia bagian timur secara tradisional tergantung pada produksi tanaman serelia semusim untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan ternak sapi sebagai sumber uang tunai. Namun tingkat produksi sapi masih rendah karena pakan dari hijauan lokal yang rendah kandungan protein dan daya cernanya selama musim kemarau berlangsung. Hal ini mengakibatkan sapi sulit mempertahankan berat badannya atau bahkan kehilangan berat badan, terutama pada bulan September sampai November. Peningkatan berat badan yang diperoleh selama musim hujan dapat hilang hingga 60% selama musim kemarau.  Akibatnya tingkat produksi yang sangat rendah secara keseluruhan, dengan peningkatan berat badan sapri kurang dari 200 g/hari. Untuk mencapai sasaran Nasional swasembada produksi sapi Indonesia, maka kualitas (khususnya kandungan N) maupun kualitas pakan harus ditingkatkan.

Legum adalah sekelompok tanaman yang berdaun lebar dari family botani Fabaceae,  Mimosaceae dan Caesalpiniaceae. Cirinya adalah produksi polong yang terbuka di sepanjang suatu lapisan. Satu ciri penting lainnya dari legum adalah kemampuannya mengubah N dari udara menjadi bentuk yang berguna untuk legum dan tanaman-tanaman yang ditanam bersama.  

Legum bervariasi secara nyata dalam sifat tumbuh yang meliputi: i) jenis herba yang tumbuh rendah, menjalar dan membentuk stolon atau rizoma (batang bawah tanah), ii) jenis herba menjalar atau melilit, iii) tumbuh pendek, lembut, berkayu, yang menghasilkan batang dan daun yang dapat dimakan, iv) pohon atau semak yang tinggi berkayu tetapi menghasilkan daun yang mengandung gizi tinggi.

Hijauan yang berasal dari legum semak (atau pohon) seperti Leucaena (Leucaena leucocephala) dan sesbania (Sesbania glandiflora) adalah pakan yang sangat baik untuk sapi. Namun, ketika musim kemarau  berlangsung, kebutuhan pakan dapat melampaui pasokannya yang mengakibatkan kekurangan protein yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi sapi selama bulan-bulan paling kering dalam tahun berjalan.

Tidak seperti legum semak (atau pohon) yang sulit dibongkar jika sudah ditanam dan tumbuh, legum herba dapat ditanam bersamaan ke dalam system pertanaman berbasis jagung  atau padi. Dengan cara ini, legum herba dapat dikelola untuk menghasilkan biomasa dalam jumlah banyak dan dapat meningkatkan produksi tanaman yang ditanam bersama atau tanaman berikutnya. Legum herba juga dapat ditanam dekat kandang ternak, mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mencari hijauan berkualitas tinggi untuk ternak.

Legum sangat berguna karena semua tanaman memerlukan unsur N untuk tumbuh dan tanaman mengambilnya dari tanah melalui akar. Pada sebagain besar tanah, jumlah N tersedia untuk pertumbuhan tanaman adalah rendah dan membatasi pertumbuhan tanaman. Kebanyakan legum dapat menyerap atau mengikat N dari udara dengan bantuan bakteri khusus (rhizobia) pada akar-akarnya dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tanaman yang sedang tumbuh. Bakteri membentuk bintil pada akar dimana N diikat, dan strain bakteri yang tepat harus ada di dalam tanah agar terjadi fiksasi. Sebagian besar tanah mengandung banyak populasi dari berbagai strain bakteri pengikat N, tetapi sebagian legum memerlukan strain tertentu agar dapat mengikat N.

Jumlah N yang diikat oleh legum tergantung pada pertumbuhan legum tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh yang baik (seperti pasokan air dan unsur hara tanah lainnya, tanah dengan drainasi baik, dan cukup sinar matahari ) dan adanya strain rhizobia yang efektif. Tingkat ketersediaan N yang diikat berkisar kurang dari 50 kg/ha/tahun (setara dengan 100 kg urea/ha) sampai lebih dari 200 kg/ha/tahun (setara dengan lebih dari 400  kg urea/ha). N akan tersedia bagi tanaman untuk pertumbuhan jika bintil terpisah dari akar legum dan terdekomposisi. Nitrogen juga tersedia bagi tanaman didekatnya melalui dekomposisi bagian-bagian dari legum (seperti akar dan daun) setelah terlepas dari legum. Tanaman yang ditanam bersama atau setelah legum mempunyai potensi hasil yang lebih tinggi karena akses terhadap N yang lebih tinggi; namun demikian, hal ini sangat tergantung pada pengelolaan legum dan jumlah biomasa yang diangkut sebagai pakan.

Sapi dan kambing adalah hewan ruminansia yang membutuhkan pasokan gizi hijauan untk bertahan hidup, tumbuh dan menghasilkan susu atau daging. Hijauan yang dimakan diurai oleh mikroba yang ada di dalam rumen, atau perut pertama, dan diubah menjadi bentuk yang dapat diserap oleh ternak. Jumlah dan kecepatan mikroba ini dalam mengurai bahan makananan tergantung pada pasokan gizi yang sesuai, terutama protein, yang tersedia dalam pakan. Beberapa komponen karbohidrat tnaman, kebanyakan bagian structural sel seprti dindidng sel, lebih sulit diurai dibandingkan dengan komponen lainnya, hingga menghasilkan ‘daya cerna’ lebih renah (yaitu berapa banyak yang dibuah menjadi komponen lebih kecil dan dapat digunakan). Rumput memasok tingkat protein yang baik (9-15%) dan energi ketika masih muda, tetapi proteinnya menurun hingga 3-6% pada saat tanaman tersebut sudah tua. Rencahnya komponen ytang dapat dicerna akan meningkat pada tanaman yang tua dan kemampuan untuk mencernanya juga menurun dari sekitar 70% menjadi 40%. Dengan demikian, mikroba cenderung mengurai pakan dengan cepat pada rumput yang muda, tetapi jauh lebih lambat pada tanaman yang sudah tua.

Kandungan protein kasar dalam pakan sekitar 12,0 -12,5 % direkomendasikan untuk hewan yang sedang tumbuh dan sekitar 11,0 % jika hewan tersebut pada tahap penggemukan. Campuran pakan tersebut dapat diperoleh melalui penyediaan rumput dan legum yang memadai dalam ransum. Campuran sekitar dua pertiga rumput dan sepertiga legum akan membuat penggunaan hijauan legum paling efisien. Memberi tambahan hijauan legum untuk sapi Bali sebanyak 10 gram hijauan kering per kg berat hidup perhari akan memberikan protein memadai untuk pertumbuhan  ternak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak yang baru saja disapih dan bebobot 50-70% dapat memperoleh manfaat dari tanaman pakan legum. Dengan pemberian pakan rumput alami ternak mengalami pertambahan berat badan sebanyak 42 kg selama 320 hari, sedangkan yang diberi tamahan hijauan legum herba atau legum pohon bersama rumput alam bertambah berat badan 72-91 kg, Jelas bahwa hewan yang diberi pakan tambahan hijuan legum akan mencapai target bobot hidup jauh lebih cepat daripada yang tidak diberi pakan hijauan legum

Legum herba juga dapat digunakan sebagai pakan tunggal untuk ternak kambing, baik sebagai biomasa kering maupun segar, untuk meningkatkan berat hidu melebihi kambing yabng diberi pakan rumput loka. Kambing yang diberi pakan Clirtora ternatea dan Centrosema Pascuorum selama 2 bulan (November-Januari) bobot hidupnya meningkat masing-masing 33 dan 58 gram/ekor/hari. Kambing yang diberi rumput lokal apa adanya kehilangan bobot 33 g/ekor/hari selama periode yang sama.  Salam Inovasi (Ir. Onike T. Lailogo, M.Si., Ph.D., Ir. Debora Kana Hau, M.Si., Ir. Medo Kote, M.Si., Dr. Jacob Nulik)

Sumber:  Dr. Jacob Nulik, et all, 2013. Mengintegrasikan Legum Herba ke dalam system tanaman dan ternak di Indonesia Bagian Timur