JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Media Sosial

Kandang Kolektif Bagi Ternak Kambing Di NTT

PENDAHULUAN

Pada umumnya pemeliharaan kambing di pedesaan dilakukan secara sambilan, sehingga tidak heran bila kambing sering berkeliaran di kebun-kebun bahkan di jalanan umum. Hal ini karena masih kurangnya perhatian peteranak terhadap hewan ternak tersebut sehingga terkadang sekalipun ditempatkan dalam kandang namun tanpa dinding dan jarang dibersihkan. Pakan dalam bentuk rumput dan daun-daun tanaman lain,diambil dari kebun, tetapi ada pula petani yang menggembalakan kambingnya. Sistim pemeliharaan yang masih tradisional seperti ini memang menguntungkan juga bagi peternak, namun, pertumbuhannya lambat dan tak jarang akan ternak sering terserang penyakit.

Teknologi pemeliharaan ternak kambing telah banyak dihasilkan agar peternak dapat  memperbaiki cara pemeliharaan tersebut, dan salah satu hal yang penting adalah system perkandangannya.

Kambing membutuhkan kandang yang layak dan sehat, yang didukung oleh pakan yang segar dan bergizi dan dibarengi oleh  perawatan yang teratur, sehingga yang akan menjadi topik   kali ini adalah mengenai system perkandangannya yaitu kandang kolektif.

 

PENGELOLAAN KANDANG KANDANG KOLEKTIF

Fungsi utama kandang adalah untuk melindungi kambing dari panas dan hujan, sekaligus untuk mempermudah pengawasan dan pengamanan kambing.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kandang antara lain: i) Kandang ditempatkan agak jauh dari rumah atau sumur, ii) Tidak becek atau tergenang air, iii) Terlindung dari hembusan angin secara langsung, iv) Mudah dibersihkan dan mendapat sinar matahari pagi, v) Lahan cukup luas dan udara sekitarnya tidak tercemar, vi) tersedia bahan-bahan bangunan untuk pembuatan kandang, misalnya kayu dan bahan untuk atap, vii) Kandang kambing sebaiknya dibuat model panggung, sebab lebih bersih, kering dan tidak lembab sehingga semua kotoran, air kencing dan sisa-sisa pakan jatuh di kolong kandang, viii) Bahan kontruksi kandang harus dibuat sesuai dengan fungsinya, ix) Tiang utama sebagai penahan beban dibuat dari kayu ukuran 12x12 cm, yang dipilih dari jenis kayu yang kereas dan tidak mudah lapuk atau dari bambu yang besar dan kuat. Atap dari alang-alang atau bahan lainnya dengan permukaan miring keluar, atau kemiringan 300 agar air hujan mudah mengalir dan tidak bocor, viii) Ukuran kandang harus disesuaikan dengan jumlah dan keadaan kambing yang dipelihar. Untuk seekor kambing jantan dewasa berumur lebih dari 12 bulan, ukuran kandang adalah 1,2 x 1,4 m. Sedangkan untuk seekor kambing betina dewasa dengan umur sama, ukuran kandang adalah 1,0 x 1,2 m. Untuk seekor kambing muda umur 7-12 bulan, cukup dibuatkan kandang seluas 0,75 m2. Seekor anak kambing yang belum berumur 7 bulan, cukup disediakan kandang seluas 0,5 m2, sedangkan luas kandang untuk seekor induk betina dan seekor anaknya yang masih menyusui adalah 1,5 m2, x) Bila dalam satu kandang terdapat sejumlah kambing yang berbeda jenis kelaminnya, sebaiknya dibuatkan penyekat. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengaturan pemberian pakan dan pengaturan perkawinan, induk yang buting lebih aman, dan setelah melahirkan dan menyusui juga lebih tenang. Di samping itu, untuk mencegah terjadinya perkawinan antara induk dan anaknya atau perkawinan sedarah (inbreeding) lainnnya, xi) Bahan yang digunakan untuk pembuatan kandang adalah dari bahan lokal seperti daun kelapa/gewang untuk atap dan kayu untuk tiang, sedangkan untuk lantai dibuat pengerassan dari semen untuk menghindari lumpur/genangan air.

 

Manfaat  Kandang Kolektif : i) Tumbuhnya motivasi dan persaingan yang sehat di antara sesama anggota dalam berusaha, berlomba-lomba menghasilkan sapi  yang baik, ii) Tumbuhnya jiwa kewirausahaan pada petani, iii) Tumbuh dan berkembangnya semangat kerja antara sesama anggota kelompok dengan pihak pengusaha di bidang peternakan, iv) Mata rantai penjualan ternak semakin pendek dan harga jual didasarkan pada kesepakatan antara kelompok dan pengusaha, v) Tumbuhnya koperasi peternakan di pedesaan, vi) Terbukanya lapangan pekerjaan bagi anak-anak putus sekolah’, vii) Tersedianya pupuk kandang dalam jumlah yang banyak, yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan biogas dan kompos untuk tanaman sayur-sayuran untuk pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, viii) Kesehatan ternak terkontrol, ix) ) Terciptanya pasar ternak di tingkat kelompok tani dan tumbuhnya sentra-sentra agribisnis peternakan.

SYARAT-SYARAT KANDANG KELOMPOK: i) Pemilik ternak adalah anggota kelompok tani, ii) Jumlah anggota kelompok dalam satu kandang kelompok minimal 10 orang, iii)   Mentaati segala ketentuan yang telah disepakati dalam musyawarah kelompok, iv) Lokasi kandang kelompok disesuaikan dengan tempat tinggal, tempat usaha, persediaan pakan, air dan jaminan keamanan, terpisah dari rumah, mudah dijangkau serta harus terhindar dari genangan air, v) Konstruksi kandang kokok dan kuat dengan lantai yang rata, tidak licin, keras dan agak tinggi dari sekitarnya, serta dilengkapi dengan tempat pakan dan lubang penampungan kotoran ternak, vi) Bahan yang digunakan untuk pembuatan kandang adalah dari bahan lokal seperti daun kelapa/gewang untuk atap dan kayu untuk tiang, sedangkan untuk lantai dibuat pengerassan dari semen untuk menghindari lumpur/genangan air.

 

Kegiatan yang berhubungan dengan teknologi budidaya ternak kambing khususnya sistem perkandangannya pernah dilakukan melalui kegiatan kajian integrasi ternak kambing dan tanaman perkebunan di kabupaten Ende Tahun 2006 namun teknologi yang dihasilkan masih sangat relevan untuk terus didiseminasikan ke peternak kambing di NTT.

Beberapa hasil pengakajian tersebut antara lain adalah dengan adanya kandang kelompok juga terlihat kerjasama yang baik antara tenaga dalam keluarga untuk melakukan pengelolaan ternak dan kandang ternak, yaitu ibu-ibu juga membantu menyediakan dan memberikan pakan pada ternak, membersihkan kandang dan mengumpulkan kotoran ternak untuk pembuatan pupuk kompos secara  kelompok. Kotoran ternak yang tertampung dari lubang penampung di bawah kandang ada yang dimasukkan ke dalam karung plastik dan ada yang dikumpulkan di lubang pengumpul sebelum diproses menjadi kompos.     (Penulis :  Onike Lailogo, Debora Kana Hau, Medo Kote) Sumber:  Debora Kana Hau, dkk, 2006. Laporan Kajian Integrasi Ternak Kambing dan Tanaman Perkebunan di Kabupaten Ende, 2006, BPTP NTT.