JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
BPTP NTT : Valentine Bersama PPL dan Poktan Oeteta

BPTP NTT : Valentine Bersama PPL dan Poktan Oeteta

#SahabaTani #SalamInovasi #bptpntt Mengasihi para petani sebagai wujud ungkapan dihari...

Putak Sebagai Pakan Suplemen Bagi Ternak

Putak Sebagai Pakan Suplemen Bagi Ternak

Peningkatan populasi dan produktivitas ternak mutlak harus di lakukan untuk mendukung...

Masih Ada Harapan Bagi Anggota Kelompok Tani Harapan Baru

Masih Ada Harapan Bagi Anggota Kelompok Tani Harapan Baru

#SahabaTani #SalamInovasi #bptpntt Kelompok tani Harapan Baru, di Kelurahan Camplong I,...

BPTP NTT Selenggarakan Seminar Proposal Kegiatan 2020

BPTP NTT Selenggarakan Seminar Proposal Kegiatan 2020

Seminar proposal yang diadakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT merupakan...

  • BPTP NTT : Valentine Bersama PPL dan Poktan Oeteta

    BPTP NTT : Valentine Bersama PPL dan Poktan Oeteta

    Monday, 17 February 2020 07:08
  • Putak Sebagai Pakan Suplemen Bagi Ternak

    Putak Sebagai Pakan Suplemen Bagi Ternak

    Friday, 14 February 2020 01:21
  • Masih Ada Harapan Bagi Anggota Kelompok Tani Harapan Baru

    Masih Ada Harapan Bagi Anggota Kelompok Tani Harapan Baru

    Thursday, 13 February 2020 08:02
  • BPTP NTT Selenggarakan Seminar Proposal Kegiatan 2020

    BPTP NTT Selenggarakan Seminar Proposal Kegiatan 2020

    Saturday, 08 February 2020 08:14

Info Teknologi

TINGKATKAN PRODUKSI DENGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGO...
23 Apr 2012 02:20 - Administrator

SUCCESS STORY

Berbicara tentang Legowo tentunya tak dapat dipisahkan dengan sistem usahatani padi sawah yang juga sangat berkaitan dengan penggunaan varietas unggul baru. Legowo yang secara harafiah be [ ... ]

Selengkapnya
Mengurangi Dampak Perubahan Iklim Pada Padi
15 Sep 2011 00:26 - Administrator

Ancaman perubahan iklim terhadap padi tidak boleh dipandang remeh. Padi adalah makanan pokok 3 milyar penduduk bumi termasuk jumlah terbanyak dari 1 juta warga miskin dunia. Kebutuhan beras masih akan [ ... ]

Selengkapnya
Artikel lainnya

Media Sosial

SUCCESS STORY

Berbicara tentang Legowo tentunya tak dapat dipisahkan dengan sistem usahatani padi sawah yang juga sangat berkaitan dengan penggunaan varietas unggul baru. Legowo yang secara harafiah berarti lapang atau luas telah menjadi primadona bagi petani padi sawah di Indonesia.

Sistem Tanam Jajar Legowo, dari sejarahnya, karena sudah dihasilkan kurang lebih satu dekade ini telah terbukti dapat memperbaiki sistem usahatani yang biasa dilakukan oleh petani secara tradisional. Oleh karena itu, BPTP NTT, dalam kiprahnya dalam bidang pembangunan pertanian di NTT selalu berusaha memperkenalkan teknologi-teknologi baru yang sangat menyentuh usahatani petani di NTT. Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah sistem tanam jajar legowo tersebut. Sistem tanam jajar legowo menjadi ‘hal penting’ yang harus diterapkan oleh petani sehingga melalui kegiatan-kegiatan diseminasi seperti demonstrasi plot dan demfram yang dilakukan baik pendampingan SLPTT Padi maupun melalui kegjiatan yang berkaitan sistem usaha tani padi sawah selalu menggunkana sistem tanam tersebut.

Khusus bagi kegiatan FEATI, sejak tahun 2008 hingga 2011, pada setiap desa yang menjadi tempat pelaksanaan demonstrasi plot dan demonstrasi farm telah diperkenalkan sistem tersebut yang juga dibarengi dengan penggunaan varietas unggul baru. Hal ini terlihat pada setiap kegiatan demonstrasi padi sawah pasti akan terlihat hamparan padi sawah yang telah ditanami dengan padi dengan sistem tanam jajar legowo baik 6:1, 4: 1 bahkan sudah ada sebagian petani yang mau menanam dengan legowo 2:1. Memang pada awalnya sulit untuk menyakinkan petani akan sistem tersebut karena petani menganggap bahwa dengan jarak legowo kurang lebih 40 cm tersebut hanya ‘membuang lahan’, namun setelah petani melakukan cara tanam tersebut petani menjadi yakin bahwa dengan sistem tanam jajar legowo memberikan banyak keuntungan bukan hanya produksi yang melonjak naik jika dibandingkan dengan hasil yang setiap tahun sebelumnya mereka dapatkan, namun juga selama periode penanaman mulai tanam hingga panen, petani merasakan tidak adanya kesulitan ketika harus menyiang, memupuk dan menyemprot jika terkena hama.

Hal yang sangat membanggakan bahwa khusus di Kabupaten Sumba Barat, kegiatan demonstrasi farm pun telah dilakukan menggunakan varietas unggul baru (VUB) INPARI 7,8 dan 10, dengan sistem legowo 6:1, luas lahan 5 ha pada kelompok tani Suka Maju, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya. Setelah dilakukan penanaman pada bulan Juni 2011, maka telah dilakukan pula panen raya oleh Bupati Sumba Barat pada tanggal 31 Oktober 2011. Kegiatan temu wicara pun dilaksanakan setelah pemanenen. Alhasil, dari hasil temu wicara tersebut, banyak harapan-harapan petani maupun masyarakat desa Patiala Bawa dan sekitarnya yang terkabulkan yang saat itu diungkapkan kepada Bupati dan jajarnnya. Sebut saja bahwa pemerintah akan segera membangun jalan desa yang sementara terputus pengerjaannya, jalan usahatani dan usaha peternakan, bronjong sepanjang 100 km, motor air 4 dim untuk keompok tani. Selain itu juga pada tahun mendatang ini pemerintah akan memperhatikan kebutuhan air melalui pembangunan sistem irigasi di desa tersebut untuk mengairi sawah yang selama ini mereka usahakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Kemudahan-kemudahan yang didapatkan tersebut karena didorong oleh rasa bangga pemerintah daerah akan keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Karena dari hasil panen yang melalui ubinan diketahui bahwa produkdi INPARI 7 adalah sebesar 8,48 ton/ha, dan INPARI 10 sebesar 6,24 ton/ha. Hal ini sangat membantu dalam penyediaan benih unggul berkualitas di Kabupaten Sumba Barat. Terungkap bahwa tekat pemerintah daerah, tahun 2013 Kabupaten Sumba Barat akan swasembada benih.

Dengan demikian bahwa kehadiran BPTP NTT melalui kegiatan Demofarm yang memeperkenalkan sistem taman jajar legowo tersebut telah memberikan dampak yang cukup berarti bagi masyarakat di desa tersebut. Hal ini karena bukan hanya produksi yang dapat ditingkatkan, tapi juga dampak positif bagi kepentingan hayat hidup petani dan masyarakat desa tersebut yang akan segera diwujudnyatakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat dalam waktu dekat ini.

Namun satu hal yang pasti bahwa, sistem tanaman jajar legowo telah dikenal oleh masyarakat tani bukan hanya di desa Patiala Bawah dan sekitarnya tapi juga oleh seluruh masyarakat tani di Kabupaten Sumba Barat yang nantinya akan menjadi primadona sistem tanam padi sawah di daerah tersebut.
Penulis : Ir. Onike T. Lailogo, M.Si (Penyuluh Pertanian Madya BPTP NTT)
Ancaman perubahan iklim terhadap padi tidak boleh dipandang remeh. Padi adalah makanan pokok 3 milyar penduduk bumi termasuk jumlah terbanyak dari 1 juta warga miskin dunia. Kebutuhan beras masih akan terus meningkat, tetapi perubahan iklim bisa mengakibatkan produksi padi global terus berkurang.

Lembaga Riset Padi Internasional (IRRI) dalam satu risalahnya melihat ancaman itu nyata berdasarkan dua tren universal yang diprediksi oleh semua model perubahan iklim sejauh ini. Pertama, suhu akan meningkat sehingga menambah stres panas dan menaikkan permukaan air laut. Kedua, penyimpangan iklim akan semakin sering dan tajam.

Bagi lokasi tertentu kenaikan suhu bisa membawa dampak positif, bisa tanam padi satu atau dua kali setahun. Tetapi secara keseluruhan, dampak perubahan iklim terhadap produksi padi dunia akan negatif. International Food Policy Research Institute (IFPRI) memperkirakan pada tahun 2050 produksi padi dunia turun 15% dan harga naik 12%.

Gejala Merugikan
IRRI membeberkan berbagai gejala akibat perubahan iklim yang bisa merugikan produksi padi, yakni kenaikan permukaan air laut, benaman air, salinitas, meningkatnya suhu dan karbon dioksida, kelangkaan air, hama, penyakit dan gulma.
Kenaikan suhu mencairkan kutub, permukaan air laut akan naik mencapai 1 meter pada akhir abad 21. Kebanyakan padi ditanam di dataran rendah, kawasan pantai, termasuk delta-delta. Sekitar 20 juta ha areal pertanaman padi dunia sudah mulai mengalami genangan yang membenamkan tanamam padi. Salinitas lahan juga meningkat sehingga menurunkan hasil padi. (Sinar Tani)
Bagi kawasan tropis bumi, perubahan iklim global akan menyebabkan musim-musim bertanam semakin pendek, semakin panas atau kering. Penduduk miskin di berbagai wilayah tropis, menurut hasil studi terbaru, dibayangi oleh bencana besar rawan pangan. Dalam waktu kurang dari 40 tahun ke depan, ratusan juta penduduk miskin kronis di kawasan Afrika, Asia Selatan, dan bisa juga di China dan Amerika Latin akan menghadapi bencana tersebut karena berada dalam titik-titik panas (hotsopts) perubahan iklim. Untuk menghindarinya diperlukan upaya adaptasi yang lebih besar dari apa yang dilakukan masyarakat dunia sekarang. Peringatan tersebut dinyatakan dalam laporan hasil studi CGIAR Research Program on Climate Change, Agriculture and Food Security (CCAFS) yang berjudul “Mapping Hotspots of Climate and Food Security in the Global Tropics” dan disiarkan awal Juni 2011. Studi itu mencoba mengamati kebutuhan mendesak upaya adaptasi terhadap perubahan iklim pada masyarakat dan daerah yang potensial ditimpa kondisi pertanaman yang semakin keras. Studi CCAFS yang dilakukan bersama Earth System Science Partnership (ESSP) telah mencocokkan titik-titik panas perubahan iklim di masa depan dengan daerah-daerah yang telah dilanda masalah pangan kronis untuk mengidentifikasi penduduk yang sangat terancam bencana besar rawan pangan. Sampai tahun 2050, di daerah-daerah dengan kondisi demikian, terutama di Afrika dan Asia Selatan, dan secara potensial juga di China dan Amerika Latin, musim tanam akan semakin pendek, semakin panas atau semakin kering. Para peneliti menandai area yang sangat rentan ancaman dengan menggunakan satu rangkaian model iklim dan indikator masalah pangan untuk menciptakan satu rangkaian peta yang rinci. Ada yang menunjukkan wilayah-wilayah yang berada dalam risiko melewati ambang iklim, seperti suhu udara yang terlalu tinggi bagi tanaman jagung atau kacang-kacangan sehingga akan mengurangi produksi pangan. Ada yang menunjukkan wilayah yang sensitif terhadap peralihan iklim karena penggunaan areal yang cukup besar untuk produksi pertanian. Ada pula peta wilayah-wilayah dengan sejarah panjang rawan pangan.(Sinar Tani)
Aplikasi agens hayati seperti pupuk dan pestisida hayati pada pertanian diyakini sebagai alternatif utama terhadap bahan agrokimia. Praktek Pertanian yang Baik (Good Agricultre Practices/GAP), keberlanjutan pertanian, keamanan pangan dan kelestarian lingkungan bisa lebih terjamin, biaya produksi lebih murah. Namun, aplikasinya secara global maupun di Asia masih lamban, terhadang banyak kendala.
Satu lokakarya internasional yang diselenggarakan FFTC bersama Dewan Riset Pertanian Pilipina (PCARRD) beberapa waktu lalu di Los Banos, Pilipina mencoba mengamati status pupuk dan pestisda hayati di seputar Asia-Pasifik, penerimaan petani, serta masalah yang dihadapi. Dan bagaimana caranya agar petani, khususnya petani kecil, lebih bersemangat menerima dan menggunakan pupuk dan pestisida hayati.
Pertemuan tersebut telah memberi pemahaman yang lebih baik tentang kemanjuran dan keamanan teknologi agens hayati bagi pertanian skala kecil dan memberi gambaran jelas tentang status dan prospek agens hayati sebagai strategi yang menjanjikan bagi produksi tanaman yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sementara itu kebanyakan petani kecil di kawasan Asia masih meneruskan ketergantungan pada pupuk dan pestisida anorganik. Pangsa alternatif hayati di pasar perlindungan tanaman baru 1-2%, itupun didominasi oleh produk rekayasa genetik Bt.
Padahal, peluang mengembangkan teknologi agens hayati dan aplikasinya di Asia sangat besar karena cukup efektif dan efisien biaya, mudah diproduksi secara masal, sesuai untuk GAP, pangan aman dan ramah lingkungan. Beberapa negara Asia-Pasifik sudah melakukan langkah terobosan cukup berarti dalam pengembangan teknologi agens hayati, di antaranya Jepang, Korea dan Taiwan. Upaya itu dilengkapi dengan kegiatan promosi untuk mendorong penerimaan dan penggunaan oleh petani kecil. Namun, secara umum kemajuan peranan teknologi agens hayati kelihatannya masih lamban.
Di Jepang, Federasi Koperasi Pertanian Tokachi (TFAC) memproduksi dan mendistribusikan jenis-jenis pupuk hayati rhizobium, ada untuk tanaman kedelai dan kacang-kacangan lain, untuk inokulasi benih leguminosa dan untuk pelapis benih rerumputan leguminosa. Di Hokaido, 80% petani menggunakan pupuk hayati ini.
Di Korea Selatan, pangsa pestisida hayati di pasar pestisida (2007) sudah mencapai 2,8% (US$ 35 juta). Pestisida hayati andalan yang luas digunakan petani adalah campuran kuning telur dengan minyak makan (egg yolk and cooking oil mixture/EYCO) untuk melawan berbagai hama dan menyehatkan tanaman. (Sinar Tani)
Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR) telah meluncurkan inisiatif yang berjudul Global Rice Science Partnership (GRiSP) yang merupakan kemitraan ilmiah global terbesar untuk pembangunan pertanian berkelanjutan. GRiSP,- sebagai yang pertama kali dalam sejarah-, mengusung rencana strategis dan kerja tunggal bagi riset padi global agar bisa memberi sumbangan lebih efektif dalam menghadapi tantangan pembangunan di tingkat regional, nasional dan lokal.
Informasi dari CGIAR dan IRRI menyatakan langkah-langkah perbaikan dramatis dan revolusioner diperlukan untuk meningkatkan kemampuan petani menghasilkan beras yang tingkat kebutuhannya terus meningkat sementara tingkat hasil cenderung melandai.
Beras merupakan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi penduduk bumi, utamanya penduduk miskin. Di tengah tantangan berbagai macam kendala, proyeksi ke depan cukup memprihatinkan. Dalam jangka dekat dan menengah kebutuhan beras akan melebihi produksi, sementara harga akan terus meroket. Goncangan-goncangan politik dan ekonomi yang berbahaya bisa timbul di bagian-bagian dunia yang padat penduduk.
Atas dasar kenyataan itu, CGIAR melihat adanya keperluan mendesak melakukan reorientasi dan menyatukan usaha-usaha riset utama dunia mengenai sistem produksi pertanian berbasis padi. GRiSP akan melibatkan sekitar 900 lembaga internasional, regional dan nasional dunia dalam kemitraan global ilmu perpadian.
GRiSP memimpin para ilmuwan untuk memulai upaya yang paling komprehensif yang pernah ada untuk memanfaatkan keragaman genetik padi. Riset diarahkan untuk menemukan gen-gen baru padi dan menafsir fungsinya yang diperlukan untuk mendukung percepatan usaha menerobos penghalang hasil (yield barrier) padi dan untuk membiakkan generasi padi “siap iklim”, yang tahan menghadapi gejala dan dampak perubahan iklim.
Misi GRiSP yang diluncurkan 10 Nopember 2010 pada Kongres Internasional Padi Ke-3 di Hanoi adalah mengurangi kemiskinan dan kelaparan, memperbaiki kesehataan dan nutrisi, mengurangi kerusakan lingkungan dan meningkatkan ketahanan ekosistem sistem produksi padi melalui riset padi, kemitraan dan kepemimpinan internasional bermutu tinggi. GRiSP didisain untuk mencapai 3 tujuan dalam pelaksanaan misinya selama 25 tahun hingga tahun 2035 yang dibagi dalam rencana-rencana kerja 5 tahun.(Sinar Tani)